Saturday, April 24, 2021

Malaikat pelindung dari Bontot

Foto saat dimana laka terjadi, dua anak si sulung dan bontot ini diboyong ke Panti. Dimana mereka singgah dua hari di sana sembari menunggu keputusan kami bertiga yang terbaring di bangsal RSUD Salatiga.

Bahkan di saat terjadi evakuasi, bontot yang di dudukkan di atas sofa dimana aku terbaring tak berdaya. Aku tahu dia bingung karena semua orang asing.
Untung ada senior kakak yang langsung datang dan mengurusi saat itu.

Katanya saat di panti pun dia nggak mau diajak sama siapapun kecuali sama kakaknya.
Bahkan saat hendak diungsikan oleh bude nya di Batang, sepanjang dalam mobil dia happy banget mau gurau sama keponakan yang usianya 5thnan.

Tapi begitu sampai di Batang, sambutan datang dari keponakan dan bude2nya yang riuh membuat dia bingung mencari2 sosok emaknya.
Saat itulah dia nggak mau lagi diajak lagi sama bude nya yang ungsikan alias kakakku.
"Nesu ketok'e... mergo dikira mau jemput ummi. Tapi begitu tiba di rumdin tingak tinguk nggak ada awakmu" kata mbakku


Malamnya dia sempat kluyar kluyur sendiri. Begitu mau tidur juga sempat rewel.
Tapi Alhamdulillah hari2 berikutnya tetap happy sekalipun nggak mau disentuh lagi sama kakakku maupun bude2nya yang lain๐Ÿ˜„.


Kira-kira begitu oprasiku berjalan lancar 3hari berikutnya, budenya yang bilang "Nanti jemput ummi, di RS ya.."
Saat itu, baru deh mau disentuh sama bude nya dan disuapi



Keajaiban itu.. semoga selalu ada di dirimu ya Nak...
Semoga para Malaikat selalu melindungi perjalanan hidupmu dimanapun kamu berada.
Sehat selalu Nak...

Apapun itu, Tri.akasih banyak ya Allah...
Semoga Engkau memaafkan dan mengampuni semua dosa2 kami..

Sulungku yang Hebat

Sulungku yang Hebat

foto adalah hasil jepretan sulung saat pasca pemulihan di rumah (puasa ramadhan 2021)

Dia memang sering kesal karena mendapat mandat ini itu dari emak bapaknya untuk jagain atau memastikan adik2nya aman.

Tapi hari itu (Saat peristiwa laka, yang hampir menyabet nyawa kami) tanpa ngedumel apalagi ngeluh, dia seperti lelaki yang hendak melindungi semua anggota keluarganya.

Bahkan ayahnya sendiri sempat shock saat itu, yang seumur-umur baru kali ini saya lihat swamiku nangis karena merasa bersalah dan telah mencelakai semua keluarganya.

Setelah kami semua dievakuasi yang saya sendiri hampir nggak sadar menahan rasa sakit, yang saya kira malah tulang punggung yang kenapa2 karena untuk miring saja, masya Allah...
swami sudah bermuka darah.

Dia, sulungku memastikan semuanya dalam kondisi aman.

Dia baru sadar ketika ada salah satu polisi yang berdiri di belakang dia dan melihat kerudungnya robek. Kira-kira kepalanya luka sobek dua titik sekitar 3cm. Tapi nyaris nggak nggagas dengan dirinya.

"Nggak apa-apa kok, nggak apa-apa"
Dari suaranya aku tahu dia lagi memproteksi diri dan keluarganya agar tidak semuanya limbung.

Dia memastikan barang2, bahkan berinisiatif nelpon bude nya di Batang dan ayahnya yang menyuruh telp sepupu polisi di Sragen untuk mengurus kendaraan.

Belum selesai orang2 pada ramai meminta untuk mengambil semua barang2, dia segera keluar dan mengambil semua barang2 yang ada dalam mobil, yang entah bentuknya seperti apa.

Seorang diri... ya. dia memastikan barang2nya yang tertinggal di dalam mobil seorang diri.

Saat itu... dia sempat memastikan ada apa  dengan kendaraannya (sisi dimensi sebelah). Dan rupanya dia bisa menyimpulkan seperti apa bentuknya, lewat penjelasan film anime. Dan dia menjelaskan itu, baru dua hari yang lalu.

Apapun itulah... Allah Maha Berkehendak. Dan saya dipaksa mengikuti kehendakNya.
Mungkin kami harus terjerat dalam sebuah ranjau untuk mempelajari segala sesuatu lebih jelas lagi.

Entah bagaimana dia mobat mabit sendiri, termasuk nggagas Hikam dan kasih minum dengan aqua gelas (samar2 sy lihat) karena saya sendiri sudah nyaris tak bisa gerakkan badan, kalaupun bisa menoleh sakitnya luar biasa...
Hikam hanya nangis pada saat "Darrr!!!!", setelah itu nyaris nggak terdengar suara tangisnya lagi cuman anteng. Yang aku tahu dia cuman keluarkan air mata dengan tulang yang sudah njepat keluar.

Setelah selesai, adiknya yang lagi duduk tepat di atas kepalaku hendak disapa sama ibu2, tapi apa kata si kakak.
"Dia nggak mau kalau sama orang nggak dikenal"
Dan.. bener saja, dia langsung turun dari sofa tempat dimana aku terbaring, lalu turun dan jalan ke arah kakaknya yang langsung dipangku.

Saat itu aku hanya mbatin
"Allahu Akbar... ternyata anak ini nggak apa2" alias bisa jalan.
Karena pas kejadian, si kecil duduk di bawah jok, tepat di bawah dashboard. Saat itu aku sudah pasrah entah... apa yang terjadi dengan kakinya karena di bawah dashboard pas yang turun dan pecah.

Sepanjang di panti, si kakak rupanya benar2 protektif pada adiknya. Begitupula dengan si kecil yang hanya mau pada sulung.
Alhamdulillah Amira nggak rewel juga.

Hari itu... dimana seperti mimpi buruk di siang hari.
Tapi apapun itu, saya terima sebagai teguran keras dari Allah atas sesuatu.

#MaulanaHomeschoolers
#LikaLikuEureka
#Laka

Thursday, March 25, 2021

Awal Mula saya tahu, jika dia indigo

Satu hari seorang ipar yang diaggapnya banyak menyakitiku chat ke si sulung gara2 status horrornya, "Tinggalkan aku sendiri, atau kau akan mati" kurang lebihnya begitu bunyi status WA berbahasa inggris.

Saya sebagai ibunya yang sudah tahu karakternya yang kadang bersifat sarkastik, namun sebenarnya ia punya hati yang baik sudah terbiasa dengan hal2 semacam itu.

Bahkan beliau komplain ke swami, kenapa anaknya sampai sebegitunya?
Namun swami yang sudah tahu bagaimana jungkir baliknya saya menghadapi anak wedok ini dari teori ilmiah sampai teori sufistik dan mistik cukup berkata santai;
"Kalau nggak nggak tahu ilmunya, nggak usah ikut campur"
Dan saya lega dengan jawaban seperti itu yang cukup memproteksi saya sebagai ibunya.

Karena kasus-kasus semacam ini sejak dulu sering bener, sampai membuatku stress sendiri bagaimana keluarga swami ingin mengatur segalanya yang sebnarnya nggak tahu duduk masalahnya.

Karena bagiku ungkapan-ungkapan senada itu sudah bukan sekali saja saya mendengarnya, bahkan sejak ia masih usia kira2 10tahun.

"Kenapa ya mi? saya itu pingin dipeluk, tapi aku nggak mau disentuh"
Nah!!
Awal mula sebagai mantan pekerja sosial yang pernah menangani anak2 jalanan, korban human traffic, saya dan swami sempat curiga dan panik luar biasa.
Bahkan saya sempat mencurigai swami sendiri

"Apa yang pernah dilakukannya?"
Dia bersumpah demi Allah tidak melakukan apapun, demikian juga belakangan saya tanya pada si sulung, dengan berbagai cara.  Sampai satu ketika dia menjawab
"Ya Allah mi.. kenapa pikirannya ummi horor banget"

Lalu saya mau tak mau menarik waktu mundur jau ke belakang bagaimana saya mengasuhnya selama ini.
Sejak dulu sekali, saya memang merasa ada sekat antara saya dan dia. Jadi jika dibilang jarang memeluknya, iya banget.

Saya dengan anak ini seperti musuh dingin, yang sebenarnya sumber kekesalanku adalah dengan keluarga swami yang merambat ke swami. Lalu terakhir ke dia.
Masya Allah... benar-benar merasa bersalah.
Tapi sisi lain, saya pun tak bisa mengelak kejengkelan demi kejengkelan pada swami yang bermuara pada anak.

Dan sialnya, sebelum itu semua selesai, saya kembali mengandung Hikam.
Begitu Hikam lahir, saya benar2 kewalahan mengatasi dia. Dan saat itu, hampir saja saya tak melihat sosok Reka yang saya anggap, ini anak lebih dewasa dibanding usianya.

Meskipun di beberapa sisi dia jatuh.
Misal seperti ketika saya bilang, "Tolong ambilkan buku itu" Dia benar-benar seperti kebingungan" itu di usia 7th.
Saat itulah saya mulai dibuat kewalahan mengatasi bengongnya.
Yang belakangan ternyata itu adalah dimensi lain.

Namun Alhamdulillah di usia jelang 13tahun ini, dia mulai kembali trust kepadaku.
Mulai tidak merasa tertekan lagi denganku seperti tahun2 lalu, tepatnya sekitar usia 10tahun.




Friday, March 5, 2021

Misteri teka teki Hikam


Tidak sekedar ngobrol ngalor ngidul saja, melainkan ada penjelasan bagaimana karakter anak-anak ini. Dari ibu Endang Semarang, bu Julia Maria van Tiel dari Belanda, bu Adi D Nugroho dari Amerika, dan bu Evi dari Surabaya. Bagiku itu seperti surga dunia, kami bisa konsultasi ngobrol santai. Kurang lebih pendampingan demikian berlangsung sekitar 3-4bulan berturut-turut lamanya.

Hingga pada akhirnya saya masih merasa mentog, anak-anak ini harus saya apakan... kalau kenyataannya memang demikian karakteristiknya. Karena nyatanya Hikam, masih uring-uringan dan meledak nggak jelas, atau kadang hanya tersulut masalah-masalah sepele sekali.

Sampai di titik itu saya benar-benar pasrah, harus aku apakan...

Sabtu Minggu di masa pandemi Covid -19 menjadi touring horror, karena nyatanya benar-benar senyap, jalanan.

Sampai satu ketika, di waktu Hikam mudah tersulut api, saya merasa putus asa dan harus keluar rumah entah kemana. Saat itu kabar virus covid sudah sampai Solo. Dan acara reuni rutinan teman kelas smp swami seperti menjadi angin segar, sekaligus horror karena selain suasana jalanan yang mencekam, juga perasaan was-was yang menjadikan Hikam pun akhirnya meledak juga di acara tersebut, gara-gara saya larang nyebur ke kolam renang. Pulang dengan perasaan tetap acak-acakan. Membayangkan hari senin ditinggal swami, saya merasa benar-benar nggak kuat menghadapi emosi dia yang demikian.

Saya nggak tahu bagaimana memahami arti kata "pembiaran" dan "diikuti polanya" karena nyatanya, jika diikuti polanya akan semakin tidak berpola. Dan bayangan horror tentang dunia akademik terus menghantuiku. Apalagi tahun itu, dia sudah mulai masuk kelas 5. Sementara penambahan sederhana saja dia benar-benar kesulitan.

Sisi lain dia gemar membaca buku-buku berat seperti Madilog karya Tan Malaka, Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno dan seterusnya.

Sampai satu hari, saking kalut dan tegangnya menghadapi hari-hari karena jadwal benar-benar tidak dijalankan, saya pun mulai kalut dan menekan dia memaksa untuk mengerjakan tabel penghitungan yang aku print dari Internet. 

Entah hari sebelum atau sesudah kejadian itu, di pagi hari dia ngamuk bukan main hanya gara-gara saya ingatkan untuk kerjakan tabel perhitungan simpel ala anak sd kelas 2. Mengapa agak saya tekan? karena teringat dia menghitung 5 + 3 saja kesulitan bukan main. Apalagi hitung-hitungan uang, misalkan ia beli makanan ringan, (di sini saya kadang lupa, bahwa dia sebenarnya bisa bahkan mampu, tapi ini terkait dengan konsentrasi dan fokusnya)

Hampir 2 minggu dia meledak marah ngeri banget. Bahkan pada satu malam, untung swami sudah pulang, selesai maghrib dia teriak-teriak seperti kesetanan. Dia mengejarku dari satu ruangan ke ruangan lain berasa hendak dicekik. Saya pun mulai berpikir keras, apa yang harus saya lakukan. Orang bilang, untuk menghindari pertengkaran, saya harus ngalah dan minggir, tapi kenyataannya malah justru makin kalap. 

Saya ingat betul tentang kata "penerimaan" yang saya dengar entah dari mana saja, rasanya kenyang betul teori-teori tentang anak Gifted, tapi kenyataannya tidak ada satu teori pun yang bisa saya terapkan ke dia. Saya hanya paham bahwa dia begini dan begitu, tapi apa yang akan saya lakukan, kehabisan cara. 

Di depan tv dia duduk bersama-sama,  kecuali aku. Diam-diam aku datang dan duduk dari belakang mereka ber empat. Dia yang masih digamit swami belum lost control pun masih nampak berurat merah.

Ingat seseorang (bu Wida, dari Krya) yang berkata, bahwa "Hikam ini bisa membaca hati seseorang pun, saya pun harus mempercayai itu dan menerima itu sebagai sebuah kelebihan. Dan apa yang terjadi di detik itu, saya nggak boleh menolak sisi abstrak dari dia, termasuk ada info tentang itu.

Jujur saja, sejak dia masih usia 2 hingga 3 tahun (dimana saya kudu jajan konsultasi dokter dan psikolog serta belanja buku teori apapun tentang anak-anak unik), tidak satupun orang yang membicarakan kelebihan anak ini. 

Namun saat saya bertemu dengan teman2 Indigo, mereka seperti selalu mensupportku, bahwa ini anak luar biasa.

Bahkan teman swami ada yang bilang "Abumu sama abu nya anak ini tuh lebih tua'an abu nya anak ini mbak.. wes to, tonton wae suk..." 

Saat itu aku cuman cengar cengir nggak paham aja, apa yang dia maksud.

Bahkan sesekali dia diajak ke tempat orang pinter pakai hitung2an angka, justru ketemunya

"Anak ini, besok gedenya.. kalo jadi orang bakalan jadi orang besar yang disegani banyak orang. Tapi kalau orang biasa, banyak yang cari"

Kata2 itu seperti menguap begitu saja dari otakku. Bahkan aku nggak bisa berpikir darimana dia bisa jadi orang besar, orang ngomong saja belum bisa. Karena biasanya orang2 hebat, kecilnya juga menunjukkan kehebatan segala macam. Tapi kalau dia??

Saya adalah orang yang sangat logis. Jadi tidak menerima kenyataan itu, karena pada kenyataannya kesulitan dan kerumitan yang saya hadapi. Dari yang nggak mau bicara kecuali ah-ah, uh-uh, petakilannya, sering ilangnya, sampai mainan yang hanya dijejer2 dipilah-pilah. Tidak seperti anak-anak pada umumnya.

Kembali pada tantrumnya yang luar biasa ngeri, selain energinya luar biasa besar, sorot matanya juga tajam penuh kebencian. 

Saya masih menangkap, ini adalah acting dia, seperti halnya dia menodongkan pisau ke dada atau tangannya beberapa tahun sebelumnya di saat ia usia 7-8tahun.

Namun setelah makin kesini saya baru sadar, bahwa ini adalah bentuk protes dia karena keacuhan saya pada dunia nya, yakni dunia dimensi lain.

Hingga di pagi hari, saya pasrah nangis lebay di lantai atas membayangkan "Mengapa jalan Homeschooling" yang harus kami tempuh begitu berat?

Saya ngobrol ngalor ngidul pada bu Patricia selaku founder anak2 gifted, dan menyarankan untuk ikut meditasi. Namun team saat itu bilang tidak diperbolehkan, akhirnya mundur lagi. Lagi2 founder prana sarankan untuk ikut kelas prana, tapi ternyata belum cukup umur, mundur lagi...

Meditasi itu tiap pagi dan malam, saya ikuti semua. Perlahan ketika saya mulai tenang, anak2 termasuk Hikam pun mulai tenang. 

Satu per satu, jalan seperti dibuka semua.

Termasuk ketika ada seseorang lagi yang mengatakan tentang kepekaan dia pada suara hati seseorang, sekali lagi saya percaya pada kata orang itu, namun semakin ke sini semakin kehilangan kepercayaan diri lagi bahwa dia punya pembawaan seperti ini, hingga akhirnya ia mulai meledak lagi.

Jadi sebenarnya dalam memegang kendali anak2 Gifted, adalah diri kita sendiri. "Penerimaan tanpa Syarat"

Sejak mereka kecil, saya selalu denial ketika ada orang yang mengatakan bahwa mereka berdua mempunyai bakat indigo.

Bahkan ketika Reka bercerita bahwa dirinya pernah sampai ke Gunung Jayawijaya dan Kalimantan, konsernya Didi kempot yang katanya awal mula banyak penonton, tapi perlahan mulai habis, yang ternyata bukan manusia. Kejadian itu sudah lama sekali dia cerita. Pada waktu itu dia bercerita di dalam mobil, kami masih dalam perjalanan weekend'nan. Saya pikir dia cuman nonton di youtub atau medsos.

Tapi begitu kami main ke rumah teman lamaku, yang kebetulan dia Indigo. Semua seperti dibuka lebar-lebar...

"Mbak... dirimu wes siap durung?"

Kata2 ini aku masih bertanya2? kenapa dia selalu bertanya seperti itu ketika saya mengajari anakku sendiri sepanjang tahun?

Namun hari itu saya baru paham, bahwa yang dia maksud adalah "Siap" dengan Indigonya.

Apa kata Reka malam-malam waktu di masjid Al Falah, karena saya benar2 ingin mendudukkan perkara itu se jelas2nya.

"Hikam itu bisa menembus ke cerita animasi sejarah juga lho mi.."

"Beneran??"

"Lihat aja, dia itu baca bukunya nggak sebanyak lihat youtube"

Dan saat itu juga, ketiga mbak Iffah bilang jika dia bisa menembus ruang dan waktu saya terheran2 dan sempat berkaca2.

"Njenengan itu kudu banyak2 minta maaf ke Hikam lho yu.."

"Seusia dia, bisa melewati masa sulitnya tanpa bimbingan guru itu benar2 luar biasa..."

"Itu kalau orang nggak kuat bisa stress lho yu,"

Ya Allah... berasa mau nangis kejer, tapi kudu nahan se tahan2 mungkin karena ada dua anak itu di situ.

Habis maghrib ayahnya buka hape, dilihatin foto bude nya.

"Hikam, di belakangnya ini ada siapa?"

Hanya sekilas dia lihat tanpa menatap lama.

"Kuntilanak"

Allah ya Robbi...

Rupanya swami pun makin penasaran hingga dilihatkan foto2 keluarga kakaknya yang sangat bermasalah dengan keluarga kecil kami.

Beruntun dia sebutkan ada siapa2 saja tanpa menatap lama.

Dan... benar ketika di cek temanku pun, benar apa katanya.

Begitu pulang, saya masih belum percaya seratus persen. Dia lagi asyik cerita tentang sejarah partai dari Rusia.

Entah bagaimana akhirnya hingga kami ngobrol panjang lebar dan kepikiran dengan kujungan kami ke Museum Jend. Sudirman.

"Lha ini kamu ngapain di sini"

"Ngobrol sama pak jendral sudirman"

spontan aku bengong dengan mataku mendadak berkaca-kaca. Tapi tetap sjaa harus aku tahan, karena aku tahu dia nggak suka reaksiku yang gimana2.

"Pak Jend. Sudirman lagi ngapain?"

"Lagi sholat?

"Sama siapa?"

"Sama istrinya"

Pyarrrr... spontan saya merinding pingin nangis dan menghindari dia, lalu langsung cek pada dua orang indigo.

Dan.. hasilnya sama.

Cuman satu bilang lagi membungkuk seperti rukuk, alasannya "Orang yang sudah meninggal tidak bisa sholat lagi, berdoa lagi"

Satunya lagi bilang "Itu cuman ruhnya" bilang lagi sholat.

Dalam dua perbedaan pendapat, entahlah... 

Tapi satu hal yang pasti, Hikam bisa lihat bahwa di situ ada Jend Sudirman.

Hari-hari sebelumnya, saat dia duduk di ruang tamu sendiri saya duduk di sebelahnya, memastikan "Apakah benar dia Indigo?"

"Mas Hikam, apa kamu sok lihat hantu?"

"Enggak,"

Beberapa kali saya tanya, jawabnya selalu tidak.

Sampai pada akhirnya saya teringat rubah milik Reka yang konon katanya sering ikut dia kemana-mana. Rubah putih itu dia tampilkan di foto profil WA dia.

"Apa kamu pernah lihat rubah seperti ini di rumah?"

"Iya, itu punya mbak reka"

"Pyarrrr!!!"

"Itu! dia dipojok sana"

Akhirnya dia cerita semua bagaimana binatang-binatang itu semua membentengi depan halaman rumah kami.

Dari yang berupa rubah, beruang, singa dan entah... yang jumlahnya 3-4kali lipat dua jari tangan.

Bahkan di depan pintu ada beruang tiga ekor yang tingginya di atas kepala dia.

Saat itu aku cuman pingin ketawa ngakak kebayang dia seperti bermain boneka2 yang dijajajar seperti saat dia masih balita bermain dengan boneka yang dijajar2.

Dan itu semua... di bawah kendali dia.

Allahu Akbar...

Cerita balik ke teman indigoku yang menceritakan bagaimana Hikam.

Rupanya, ada beberapa teman dari Reka ini yang mau ngajak main Reka, namun Hikamnya menolak keras.

Dan begitupula dengan mobil panther biru kami yang rupanya juga banyak yang mau ikut Hikam, tapi dia nya menolak.

Berkaitan lagi dengan laka kami yang terjadi 3x. Sekali di Sragen yang hampir menewaskan seorang anak SMU. Sekalipun lagi2 kami benar2 tidak melihat ada motor di belakang kami.

Sekali di Yogya yang menabrak itu ibu2 mabuk, jam 2malam. Dan yang terakhir, lagi-lagi di depan kantor PA Sragen yang mana karena motor ngebut dari arah belakang kami dan menabrak mobil kami. Tapi Alhamdulillahnya tidak apa-apa.

Thursday, February 11, 2021

Meditasi Membuka Pintu Misteri Kehidupan anak-anak

Saat masuk Pandemi Covid -19, rasanya segala pintu dibuka buat kami sekeluarga yang memiliki anak-anak istimewa Gifted.

Kami yang sudah terbiasa belajar di rumah sebenarnya tidak terlalu berdampak apa2, kecuali les reka yang mungkin bisa dibilang menguras biaya dan tenaga.

Inti dari les ini sebenarnya dia mencari teman yang pas. Tapi rupanya dari dulu hingga kemarin tetap saja banyak nggak cocoknya dengan teman-teman kursusannya.

Begitu masuk masa pandemi semua kegiatan totally off, Hikam cuman sesekali saat latihan panahan yang akhirnya totally off lagi.

Awal pandemi seperti anugrah besar buat kami yang tidak begitu banyak jajan psikolog maupun therapi. Selain faktor waktu, tenaga, kadang banyak pikirannya juga, dan yang utama adalah biaya.

Pendampingan demi pendampingan saya ikiti, kadang saya diikutkan begitu saja. Atau malah dapat wawancara dari mahasiswa yang sedang mempelajari apa itu Gifted.

Okey, semua membuat saya plong.. karena banyak keluhanku yang akhirnya terpahami.

Hingga di ujung waktu, pendampingan demi pendampingan selesai semua. 

Namun masalah tetaplah masalah.

Saya hanya seorang ibu Homeschoolers, yang meskipun tidak bekerja, tapi tetap belepotan mengatasi 2 anak gifted dan satu balita.

Bagaimanapun kita atur jadwal sedemikian rupa, dengan obrolan demi obrolan sebagai penyemangat. Tapi ketika hati kita tidak hadir menerima dia seutuhnya, apa adanya dan se ikhlas2nya. Tetap saja jatuhnya anak2 yang pinter membaca hati orang tua bakalan marah besar karena merasa diperlakukan seperti robot.

Yang sebenarnya bagi dia sudah diperlakukan seperti robot, namun bagiku ketika melihat anak2 pada umumnya, saya sudah termasuk sangat mengikuti mereka. Atau kasarnya, mereka sudah bisa mengendalikan kami, terutama saya sebagai ibunya.

Padahal pembiaran dalam teori Gifted tidak dibenarkan.

Mulailah tantrum demi tantrum hebat terjadi, yang puncaknya saya sudah merasa tidak kuat dengan energi besarnya Hikam menguasaiku. Suami saya paksa ijin sehari.

Pagi2 pikiran kalut, saya masuk kamar dan tutup. Masa bodoh, masih ada ayahnya yang mendampingi.

Saya tidak berharap banyak saat masuk kamar, dan pikiran seperti sudah sangat runyam.

Sehari itu, aman. Karena suami tidak meminta dia kerjakan apapun.

Begitu pagi harinya, saya berpikir lagi, bagaimana caranya agar ia tetap mau belajar. Minimal mau mengerjakan tabel perhitungan.

Dengan sedikit ajakan, dia sudah mulai meledak dan melawan yang akhirnya terjadilah tantrum luar biasa. Saat aku dekap, dia berusaha brontak dan melawan, hingga kepalaku pun harus kebentur keras ke tembok dan pusing. Tapi karena kondisi kalut menahan tendangan dia, lagi2 aku dekap berusaha menahan ledakan seperti kemarin2. Karena melihat kepalaku yang terjepit, reka pun meledak emosinya melihat kelakuan adiknya dipukullah dengan gagang sapu berulang kali.

Bukannya reda dan takut, Hikam malah justru makin menjadi2.

Sampai malam hari jelang maghrib, ia kembali nangis dan marah gara2 saya minta dia ngaji. Dia cuman diam dan diam, tak beranjak dari tempat duduknya.

Entah bagaimana mulailah kembali meledak, dan mengejar2ku dari satu ruangan ke runagan lain nyaris seperti hendak mau mencekik.

Saat itu aku sadar beberapa orang yang mengatakan dia peka dengan suara2 seseorang. Saat itupun aku berusaha tulus dan ikhlas.

"Aku menerimamu apapun keadaanmu, seikhlasnya, setulusnya"

Saat itu aku keluar dari kamar sementara dia duduk di depan tv bareng suami, dia menolehku masih dengan mata penuh kebencian. Namun sebentar aku sentuh kakinya dengan berusaha meyakinkan hati dan pikiranku menerima dia, dan ia pun nangis sesenggukan minta maaf kepadaku.

Saat itupun kami nangis bareng.

Saya belum berani banyak bicara, hanya mendoakan dan mendoakan.

@@

Pagi sebelumnya saya kalut, iseng saya telpon bu Patricia yang saya anggap banyak channel dan welcome.

Beliau menyarankan anak2 ikut meditasi. Pagi harinya saya masih ragu dan berusaha menjaga mood semuanya.

Pagi yang entah ke berapa kalinya barulah saya ikuti meditasi, pagi dan malam. Entah manfaatnya apa, yang penting pikiranku tenang. Itu saja.

Satu dua minggu perlahan emosi Hikam mulai reda, dan si kakak pun ikut terbawa suasana Hikam yang tenang.

Qodarullah pagi yang entah ke berapa, pagi2 saya buka FB baca status seorang teman. Dia juga ikut komunitas Gifted. Dia Indigo.

Saya komentar sekali dua kali, dan akhirnya mendarat di messanger.

Entah bagaimana saya seperti di tuntun. Tiba2, saya mau kirim foto anak2 begitu saja.

Dan "Duarrrrr..!!!" lagi2 pernyataan dia membuatku shock akan pandangan dia tentang bagaimana dunia anak2 dengan dimensi sebelah.

Kembali pada kata "Denial". Sejak mereka anak2, bahkan balita. Saya sering denial jika ada seseorang yang mengatakan bahwa mereka itu punya dua dimensi.

Apalagi Hikam yang penampakan luarnya bukan main repotnya.

Bahkan seorang sahabat swami bilang "Awune ndekne iku luweh tuwo ketimbang awumu mbak..".

Saat itu, detik itu aku percaya.

Lantas hari2 biasa??? hal begituan mau ku apakan??? pikirku dalam hati yang berusaha terus mengejar dunia ketertinggalan dia di usia anak2 pada umumnya.

Lalu ada satu kata yang sering saya ingkari.

"Bahwa mereka bukanlah anak-anak biasa, melainkan anak-anak Istimewa, yang memiliki kelebihan di atas rata2"

Lalu batin saya perang lagi.

"Gimana bisa dibilang di atas rata2? lha wong IQ aja pas2an"

"Bakat saja nggak cukup, harus ada kerja keras" 

Tapi semakin saya ajak kerja keras, bukannya dia semangat malah ndeprok dan mbedodok. Ini terjadi pada Reka. 

Apa yang kurasakan, aku selalu merasa dalam posisi salah dalam menangani dia. Apalagi dengan bengongnya yang super duper, membuatku kudu pingin pukul dia karena saking gemesnya. 

Dan rasanya percuma saja saya ajak memikirkan hari esok, berhari-hari, berminggu2, bahkan bertahun2.

Mengapa? 

Karena ternyata, ia melihat sesuatu yang lain, selain dunia ini. Dan itu membuat dia bengong.


Awal percaya dia mampu "melihat"

Hingga pada hari-hari berikutnya, Amira rewel bukan main. 

Teringat cerita dari mbak Pu*** tentang Reka dari fotonya yang membawa teman2nya dari kuburan, saya pun mulai geram dengannya ketika adiknya rewel nggak wajar. 

Satu malam dia nangis dari sore hingga hampir jam 3pagi. 

"Apa ada yang ganggu?" tanyaku, saat itudia jengkel nggak bisa tidur di atas karena keganggu adiknya yang sesekali nangis kenceng nggak wajar.

"Iya,"

"Suruh pergi, bilang, jangan ganggu adikku" kataku yang masih ngelus2 amira yg ngusek2 nangis hadap ke tembok.

"Ngeyel kok,"katanya

"Pokoknya suruh pergi"

Saat itu aku baru mulai percaya dengan kemampuan melihatnya. Sisi lain teringat bambu kuning yang saya tanam beberapa hari yang lalu dari kantor swami. Saya minta swami untuk mencabutnya malam itu juga. Tapi sepertinya dia punya perhitungan lain, yang akhirnya sampai pagi masih utuh tertancap.

Begitu Amira bangun, hati kembali kacau ketika dia rewel bukan main. Beberapa malam sudah nggak bisa tidur, membuat badanku lemas dan pagi itu... saya pasrah dengan fisikku yang benar2 lemes. Minggu-minggu yang berat. Bukan saja berat fisik, namun juga psikisku yang mulai terganggu.

Saat ingat pohon bambu, tanpa memikirkan semua belum sarapan, saya cabut 3pohon bambu dengan bonggol lumayan besar. Dengan sisa minyak jlantah sebotol saya bakar pohon itu dengan kertas bekas print out pelajaran mereka.

"Apa sudah pada pergi?" tanyaku pada reka

"Iya, mau pada pergi" katanya

"Itu, ada yang pada naik di atas. Berisik banget. Marah2 mereka..." katanya

"Masa bodoh," pikirku dengan sisa2 energi yang ada.

Di detik itu saya nyaris seperti masuk dalam dongeng anak2 misterius dengan teman2nya. 

Mau nggak mau, suka nggak suka enak nggak enak. Saya dipaksa tahu dunia dimensi sebelah yang sebenarnya membuatku kepo, tapi tidak dalam keseharianku.

Hingga pada bonggol/bagian akar bambu susah bukan main. Api lagi-lagi mati, sementara badanku sudah mulai gemeteran antara lapar, capek, ngantuk, campur aduk nggak karuan.  

"Dibuang aja ya mbak Reka?" kataku pada sulung yang riwa riwi keluar masuk, keluar masuk.

"Dibuang situ aja, gimana?" pikirku menunjuk pada tanah kosong sebelah rumah tetangga.

"Jangan mi, situ sudah buanyak banget"

"Yo malahane to, biar ada temannya"

"Pokoknya jangan"

"Lha terus dimana?"

"Tapi jauh 'e, Mi"

"Nggak apa-apa, ayo sekarang" kataku dengan keringat mulai dingin sempoyongan. 

"Tapi untung saya masih bisa genjot semua energiku yang akhir2 ini benar-benar seperti  sedang melayang"

Ku antar dia ke Tempat Sampah Sementara dekat GOR. Sebelum sampai ke tempat pembuangan saya sengaja berhenti daripada dianggap aneh membuang sampah kayu bakar.

"Sini aja mi," katanya

Begitu turun, "Sudah kamu doakan?"

"Sudah" katanya

Hari berikutnya Amira masih sedikit rewel, dia cerita kalau kemarin sepanjang pulang masih ada beberapa yang ikut.

Saat itu saya yang belum tahu banyak dunia semacam itu, kesel bukan main.

Tapi begitu makin kesini, 


Awal Hikam mulai "kebaca"

Hari minggu seperti biasa kami bingung mau kemana, tapi hatiku seperti dituntun keras untuk ke tempat mbak If***.

Ayah pun punya agenda mampir ke rumah saudara yang tahu ilmu2 "tuwo". Nggak banyak yang kami dapat dari dia yang paham detil sejarah orang jawa dengan kerajaan2nya.

Begitu kami sampai ke rumah temanku, dia mulai tanya soal Reka. Minggu2 sebelumnya dia memang pernah menanyakan soal Reka. Tapi saya nggak paham, dan nggak nge klik juga ke arah itu.

Dia mulai cerita soal kondisi yang masih limbung, dimana masa itu pernah dilewati Hikam sebelumnya yang luar biasa berat.

Dia pun mulai bercerita, bagaimana Hikam mampu melewati masa-masa beratnya dengan selmaat, dimana semua orang kadang bisa stress karen amengalami fase2 yang dialami Hikam.

Spontan mataku mulai berkaca2 membayangkan beberapa tahun sebelumnya yang betapa sulit dan merepotkannya menghadapi hari2 bersamanya.

Saat malam ayahnya menunjukkan foto bude dan pakde nya, dia tanya, ini siapa? kata ayahnya.

"Kunti" jawabnya santai kembali pegang hp

Temanku menjawab, "Iya"

Spontan aku kaget bukan main, "Apa beneran?" dalam batinku

Lagi2 ayahnya menunjukkan beberapa foto, termasuk foto kakak2nya beserta keluarga, ia tanya Hikam dan cek ke temanku. Iya mengiyakan begitu saja semua yang dikatakan Hikam.




Sunday, June 14, 2020

Ketika Beliau Tak ada

"Ummi ni, crewet banget" kata sulung
"Mumpung masih hidup mbak reka, kalau ummi sudah nggak ada, toh kamu bakal kangen sama crewetnya ummi"๐Ÿ˜…

Spontan jadi ingat alm ibu yang selalu crewet kasih saran ini itu, begini dan begitu.
Sekarang begitu beliau sudah meninggal, segalanya jadi terasa berat. Terutama di saat kondisi2 berat seperti hendak melahirkan Amira, Atap rumah jebol sampai repotnya masa renovasi, hingga masa tantrum hikam hingga menghadapi sulitnya pengasuhan dua anak Gifted dengan komorbid bawaan indigo.
Rasanya benar-benar hampa dan Sepi...

Dulu di tengah waktu senggang, sepi, atau tengah dirundung masalah berat, ibu adalah tempat bercerita dan bersandar pertama. 
Sekalipun kadang beliau nggak memberikan solusi, atau bahkan membuatku semakin takut, atau juga justru marah karena dikritik habis2an, 

Padahal sejak sekolah hingga 

Lalu saat beliau pergi, kadang masih ada angan-angan;
"Emak baru pergi jauh, belum pulang. Nanti kalau pulang aku mau cerita"
Begitu juga dengan meninggalnya alm Bapak dulu, perasaan begitu menghantui berbulan-bulan, bahkan entah beberapa tahun kemudian. Bahkan rasanya lebih membekas karena kesempatan ngobrol sama alm Bapak sangat sangat singkat.

Lalu sesaat aku berpikir tentang orang-orang yang saling melukai dan membenci satu sama lain, lalu yang satunya meninggal.
Adakah rasa "gelo" meskipun sekelebat??

Masalahnya ada kasus sepasang suami-istri sama-sama sudah tua dan saling membenci. Ketika si swami meninggal, istri sama sekali nggak mau jenguk makamnya. Bisa jadi karena saking kejemnya si lelaki semasa hidup. Tapi... entahlah. Naudhubillah min dzalik.

Kemudian berpikir tentang orang2 benar adanya, uban bukan berarti selalu dekat dengan kematian. Tapi dibanding anak2 remaja yang tulangnya masih kuat-kuat, tentu beda kan?
Kadang atau bahkan sering kita bersinggungan dengan mereka dan membuat masalah yang akhirnya berujung keributan dan kebencian satu sama lain.

Tuesday, May 26, 2020

Healing self di masa Pandemi

Akhir bulan Mei, tepatnya tanggal 26 Mei 2020, dimana aku harus mengunci diri dari seluruh artikel yang membuat pikiran terkoneksi ke mana-mana begitu sekali lihat, begitu menakutkan. 

Dari Konspirasi dunia, sampai kondisi lokal yang mana tiap gang ditutup. 

3hari berturut2 pikiran berjalan serem sekali. Bahkan analisa logika yang sangat-sangat menyeramkan, yang membuat kacau nya pikiran hingga berhenti total dan nggak bisa berbuat apa-apa. 

Apakah tiap orang mengalami hal serupa? 
Saya rasa Tidak. 

Inilah resiko pada diri Gifted, yang pernah saya temui, sekalipun saya juga barangkali bukan gifted. Tapi dari teori itulah setidaknya dapat membantuku memahami diri saya sendiri. Dan keluar dari masalah berat yang sedang saya alami. 
Ada banyak hal yang biasa aku lakukan sebenarnya, di saat seperti ini. Harus ada pelampiasan yang mesti dikeluarkan semua. 

Dari sekedar teriak2 (nggak mungkin, karena kita ada di perumahan),  Jalan-jalan naik motor (pikiran kadang blank, lebih mengkhawatirkan. Apalagi kondisi ku sekarang bener2 lemes gara2 pikiran), ngobrol dengan seseorang, tidak mungkin. 

Karena tidak mungkin kan??  Kita memaksa kondisi lingkungan normal semua. Kecuali diri kita yang berubah.
Dan perubahan itu menantang pola pikir kita yang maunya serba sempurna. 
Tidak mungkin

Dan kemungkinan ada pemicu lain, yakni PMS. Jelang Haid. 
Bulan ini sy haid awal2 bulan. 
Dan bulan ini kemungkinan juga minggu2 pertama. Biasanya saya sensi di minggu2 sebelum haid. Itu yang saya rasakan

Belum lagi dipicu oleh anak-anak yang belajar survive di dalam rumah. Memahami satu sama lain yang kian hari sering ada penekanan teriak. 

Pilihan tidak masuk pondok

Sesaat saya berpikir, bahwa anak-anak yang memang punya bawaan indigo ini baiknya memang perlu banyak belajar realita sains. Men...