Wednesday, December 1, 2021

Giftedness (Cara Tuhan mengirinkan Hamba terbaiknya)

Judulnya terkesan arogan.

Tapi begitulah kira-kira yang bisa saya gambarkan bagaimana anak-anak Gifted ini tumbuh dan hidup.

Mereka dengan perangkat yang spesial dari Tuhan, diberi kelebihan khusus untuk memurnikan ajaran Illahiyah yang suci.

Hanya saja, seberapa berhasil anak ini survive dalam kehidupan yang sudah bercampur baur antara kebaikan dan keburukan, lingkungan dan kemampuan dalam diri merekalah yang bakal menentukan.

Kadang saat berpikir bagaimana orang-orang Gifted ini hidup, yang kebetulan punya nasib lingkungan kurang aware dengan kondisi si anak saat dewasa pun tambah besar juga masalahnya. Meskipun ada beberapa di titik kulminasi, mereka bakal slow down seperti memiliki kesadaran penuh dari dalam dirinya sendiri. Secara penuh. Yang mana kesadarannya ini melebihi dari orang-orang pada umumnya.

Tapi yang pasti.
Anak Gifted itu bagaikan Alien yang datang dari planet yang jauh, yang memiliki pola pikir berbeda, tingkah laku berbeda dan juga pola yang berbeda.

Saat kita tanya, Mengapa dia bersikap demikian, jawabannya pun pasti membuat kita terkaget-kaget. Di luar jangkauan pemikiran anak-anak pada umumnya, se usianya.

Makanya ketika lingkungan tidak mendukung untuk, minimal "Paham" dengan mereka, akan buanyak sekali benturan-benturan yang tiada habisnya. Lalu akan melabeli macam2.
Karena kaca mata kita (orang biasa) beda, dengan kaca mata dia.
Inilah yang lalu menimbulkan masalah di kemudian hari dengan orang-orang sekitar. Dari lingkungan sekolah, rumah, hingga tempat2 publik.

Yang kemudian saat mereka dewasa memiliki masalah luka batin di masa anak-anak yang belum terselesaikan. Yang sebenarnya itu munculnya atas reaksi dari dirinya sendiri.

Kadang, mereka jadi memiliki semacam dendam, sakit hati dan lain sebagainya yang dilampiaskan ke dalam wujud yang bermacam-macam. Dari hal positif, hingga yang paling buruk dan serem.

Lalu ketika mereka jadi orang tua yang auto bawa gen Gifted pun akan bakal banyak benturan dengan banyak orang. Dari suami, ipar, mertua hingga orang-orang di sekelilingnya.

Apalagi jika ini terjadi saat kehamilan. Si bayi pun merekam peristiwa di luar dengan reaksi si ibu.
Lahirlah anak2 dengan temperamen macam-macam, yang kelak saat mereka lahir dan menjadi anak-anak pun juga 2x bahkan 10x bermasalah tergantung bagaimana si ibu mensikapi. Makanya menurutku, penting bagi mereka diajarkan pemahaman spiritual.
Bukan dogma agama yang melulu pada syariat (dalam islam) kewajiban dan lain sebagainya. Melainkan lebih dari pendalaman.
Mengapa Allah ciptakan kita yang seperti ini, mengapa Allah harus hadapkan kita pada orang2 seperti ini dan itu.

Dan satu-satunya untuk memutus mata rantai emosi negatif itu adalah dengan penyadaran diri si ibu, tentu dengan dukungan orang2 di sekitarnya, termasuk swami dan anak kelak jika memang anak sudah mulai bisa diajak berinteraksi.

Karena masalahnya tidak hanya sebatas kemampuan kognitif dan perilakunya saja.

Mereka ini.. butuh orang yang mau menerima dirinya. Meskipun menerima, bukan berarti membiarkan perilakunya yang buruk. Tidak.
Tidak ada kata Excuse dengan perilaku buruk apapun dan dimanapun.

Kadang mereka bilang
"Aku yang disakiti, mengapa harus aku yang memaafkan??"
Iya.
Tapi memaafkan, bukan berarti menerima begitu saja perilaku buruk mereka di masa lalu kita.
Memaafkan adalah untuk kesehatan diri kita.
Memaafkan juga berarti memahami konteksnya. Konteks apa yang sedang terjadi saat itu.
Kita bagaimana, dia bagaimana.
Kalau nggak ingat, sadari saja. Hadirkan orang itu dalam sudut letih kita.

Karena konsep Tebar Tuai masih berlaku untuk alam kita, ayatnya lupa😂.
Jadi, saat kita disakiti orang lain, satu saat orang itu akan menuai. Entah hari ini, tahun besok atau 10th mendatang. Tanpa kita campur tangan.
Jadi balik PRnya adalah memaafkannya, dan menyadari diri kita sepenuhnya dengan kelebihan dan kekurangan masing2.

Ketika kita sudah tahu bagaimana karakter Gifted, kita pun jadi lebih sadar "Ternyata perilaku kita memang menyebalkan bagi dia.."
Lalu saat anak-anak kita berperilaku yang jungkir balik, disadari saja. Memaafkan dan minta maaf pada orang tua kita atau orang2 di sekitar kita yang sudah membuatnya kesal mereka di masa lalu.
Dan itu PR sepanjang usia, memaafkan..karena memaafkan seperti layaknya mencabuti rumput, harus sampai ke akar2nya. Jika kita potong di permukaan satu saat akan tumbuh lagi, membuat sakit hati lagi, anak kita tidak stabil lagi..

#Reminder4Me
#PeduliGiftedIndonesia
#MaulanaHomeschoolers

Wednesday, April 28, 2021

Pra dan Pasca Oprasi


Pertama kali kejadian, yang pertama kali menjerit adalah dia, dan ternyata... Subhanallah... Allah masih sayang sama kamu Nak... disuruh lebih mendekat lagi sama Allah.

"Kalau mau nangis, nangis saja" sayup2 aku dengar suara kakaknya yang duduk di sofa sebelah dia, dimana dia terbaring.
Tapi rupanya dia nggak bisa nangis. Karena apa yang saya alami, memang nangis butuh tenaga, sementara kondisi sakit yang tak tertahan ini sudah tidak ada energi lagi untuk menangis. Hanya menahan dan menahan... entah sampai kapan...

Begitu malam datang di rumah sakit, masih di ruang IGD dimana kami terbaring berjajar ber 3, saya ayahnya dan dia.
Dia agak kesal.
Rupanya dia kesal karena wayangnya.

Saking gatelnya telingaku yang masih menahan sakit, semntara dia dengan nada marah minta wayang, aku nyletuk;
"Kamu itu apa nggak sadar, kita itu lagi diingatkan sama Allah"
"Tanganmu itu lho, lihat"
"Banyak2 minta maaf sama Allah kamu... sudah sering marah2 terus" kataku yang disambut wajah kesal dia.

Tak lama kemudian rembug demi rembug, antara kakak, swami dan bang leman dari panti sepakat kami masuk ruang VIP satu lorong.

Malam itu para suster membicarakan Hikam agar dijadikan satu sama saya atau ayahnya, biar ada teman.
Tapi dia, bersikukuh nggak mau.
Sehari berlalu, pagi itu juga dia oprasi.
Begitu selesai, saya ditawari untuk melihat kondisinya, tapi dia tetap menolak.
Saya langsung berpikir, dia masih marah dengan kata2ku semalam...

Sehari itu saya masih merasakan sakit. Dan rasanya, untuk bertahan dengan diriku saja sudah bersyukur. Jadi untuk memikirkan anak dengan emosi besar, saya benar2 harus rem kenceng sampai saya tahu benar kondisiku.

Sehari berlalu, saya yang baru datang dari ruang ICU barulah agak fresh meskipun masih kudu berjuang lagi memikirkan hari berikutnya, antara berhasil atau gagal oprasiku.

Budenya saat itu sudah harus bergantian menjagaku, namun karena keperluan keluarga masing2 akhirnya mereka pun pulang. Dan saya sendiri di kamar, yang kemudian anak2 panti pun datang menemani sehari2 secara bergiliran.

Budenya bahkan bilang Hikam nggak mau ditunggui suruhan bang leman, tapi dengan bujukan demi bujukan akhirnya mau juga ditemani.

Aku cuman mbatin..
"Lha iya, dikira enak seperti hotel. Ada ac, tv sama kulkas" tapi seharian di RS rupanya mulai ngeluh sama budenya "Bosen"


Saturday, April 24, 2021

Kata Pasrah

((foto diambil saat hendak buka jahitan yang sudah berusia hampir 1bulan. yang sakitnya luar biasa... karena selain sudah terlalu nekan ke kulit perut, juga terdapat luka bekas pencetan rembesan cairan yang bikin gatel))


Sulit dan ambigu ketika kita berkata "Pasrah".
Karena pasrah, bukan berarti kita menyerah. Melainkan menyerah setulusnya, se ikhlasnya pada kehendak Allah. Mau diapakan kita.
Berat?
Sangat.
Dulu ini saya praktekkan saat kondisi-kondisi terjepit. Namun rupanya ketika sudah menjadi ibu, saya sering lupa. Bahwa hidup adalah bagian dari serangkain manusia menjalani kehidupannya, baik kehidupan saat hidup di dunia maupun kehidupan setelah mati.

Apa yang terjadi ketika kita sudah pasrah?
Kita siap2 kehilangan apapun. Termasuk nyawa atau harta benda.
Namun ada satu keyakinan yang kadang kita lupakan.
"Bahwa apapun itu, Allah yang ar Rahman dan ar Rahim akan senantiasa menunjukkan jalan kita pada sesuatu yang lebih baik."
Karena kenaikan kelas, selalu akan ada ujian. Makin berat ujian seseorang, makin besar peluang kebesaran yang bakal diraih. Entah apapun itu...

Seperti saat kejadian laka.
Saya kaget bukan main. Merasa Allah sedang mengingatkan keras perbuatan saya beberapa minggu sebelumnya. Disamping energi negatif yang membuat hari2 makin buruk hingga akhirnya energi negatif itu terkumpul dan meledaklah saat itu.

Ya, saya lagi memperhatikan reaksi swami yang cuek, dingin dan keras kepala. Bahkan ketika saya ajak ke Kopeng tidur di Hotel dengan harapan mampu meredakan kebuntuan pikiranku sendiri.
Namun akhirnya tetap saja ditinggal tidur swami di saat saya harus mengajak bicara baik2 dengan anak2.
Saat itu, apa yang terjadi dalam hatiku.
"Jika hendak terjadi, terjadilah... aku menuruti kehendakMu Ya Allah..."
Meski saat itu saya benar2 shock.

Begitupula saat di evakuasi.
Saya hanya bisa pasrah, apapun yang terjadi dalam tubuhku, aku mengikuti kuasaMu.
Lagi2 hanya air mata yang menggelintir.

Beda lagi saat jelang oprasi. Saat itu sudah jelang ashar, saya ingin sholat dulu.
Saat itu pikirku hanya...
"Kalau nyawaku memang ini yang terakhir... saya nggak hutang sholat lagi"
Begitu merem takbirotul ikhram dengan baju selutut dan tanpa jilbab. Saya hanya bisa pasrah...

Lusssss.... tenang betul, damai luar biasa.

Sepanjang ketidaksadaranku, saya seperti sedang melihat dokter tengah membentangkan usus2ku dan organ dalamku dengan warna abu pucat, namun bentuknya lebih besar dari ukuran seharusnya.

Begitu sadar, tenggorokanku tercekat oleh dua pipa oksigen nyekat di tenggorokanku yang tak pikir itu seperti alumunium tipis.

Sayup2 aku dengar, perawat mengambil sampel darah di kakiku, dan kembali membungkusnya rapat2 dan aku dengar

"Ditutup mbak, bu sochibah kedinginan katanya nggak kuat kedinginan" kurang lebih begitu.

Perlahan aku buka mataku berat. Aku lihat di sekelilingku penuh dengan warna putih, termasuk peralatan yang terpasang di tubuhku. Para suster berlalu lalang di sekelilingku memastikan peralatan beberapa pasien di sebelahku yang tak terlihat karena tertutup mesin detak jantung.

Perlahan aku bisa gerakkan kakiku "Alhamdulillah ya Allah.. ternyata aku masih hidup" pikirku mulai menitikkan air mata antara sedih dan bahagia

Jari jemari terasa ringan bisa ku gerakkan perlahan (tidak seperti waktu cesar) dan mulai meraba perutku yang ternyata ada beberapa selang. Termasuk balutan perban di perutku sebelah kiri.

"Mbak, saya sudah dioprasi?"

"Sudah bu, oprasinya sudah selesai"

Lagi2 aku menitikkan air mata, karena nyatanya untuk menangis saja memang butuh tenaga. Jadi berulangkali saya hanya bisa menitikkan air mata terharu,

"Karena nyatanya saya masih dikasih dispensasi umur lagi sama Allah"

Saat itu saya ingat meninggalkan beberapa waktu sholat.

"Mbak... jam berapa?" suaraku berasa kesedak ketelan pipa dan hendak batuk

"Allah ya Robbi..." pikirku pingin nangis karena kudu nahan batuk karena guncangan perut.

"Jam enam bu,"

Sayup2 aku dengar, bahwa harusnya aku di ruang ICU selama 8jam. Jadi aku hitung2, harusnya kalau masuk jam 3 keluar jam 6 berarti masih kurang berapa jam?

Cara berpikirku agak nge fly

Hitung demi hitung, berarti aku bisa keluar dari situ sekitar 5jam lagi. Pikirku saat itu.

Akhirnya aku berpikir untuk ngejar waktu sholat maghrib "pikirku saat itu"

"Mbak.. adzan maghrib nya sudah dari tadi ya?"

si perawat agak bingung,

"Sudah jam 6 pagi, bu"

"Allah ya Robbi..."

Alhamdulillah...





Semoga kelak kita kembali dengan husnul khotimah ya nak...

#jelang lepas jahitan perut#

Terimakasih Allah..
Engkau berikan kami ujian yang cukup berat, dan Engkau berikan kami kekuatan serta kemampuan melewatinya.

Malaikat pelindung dari Bontot

Foto saat dimana laka terjadi, dua anak si sulung dan bontot ini diboyong ke Panti. Dimana mereka singgah dua hari di sana sembari menunggu keputusan kami bertiga yang terbaring di bangsal RSUD Salatiga.

Bahkan di saat terjadi evakuasi, bontot yang di dudukkan di atas sofa dimana aku terbaring tak berdaya. Aku tahu dia bingung karena semua orang asing.
Untung ada senior kakak yang langsung datang dan mengurusi saat itu.

Katanya saat di panti pun dia nggak mau diajak sama siapapun kecuali sama kakaknya.
Bahkan saat hendak diungsikan oleh bude nya di Batang, sepanjang dalam mobil dia happy banget mau gurau sama keponakan yang usianya 5thnan.

Tapi begitu sampai di Batang, sambutan datang dari keponakan dan bude2nya yang riuh membuat dia bingung mencari2 sosok emaknya.
Saat itulah dia nggak mau lagi diajak lagi sama bude nya yang ungsikan alias kakakku.
"Nesu ketok'e... mergo dikira mau jemput ummi. Tapi begitu tiba di rumdin tingak tinguk nggak ada awakmu" kata mbakku


Malamnya dia sempat kluyar kluyur sendiri. Begitu mau tidur juga sempat rewel.
Tapi Alhamdulillah hari2 berikutnya tetap happy sekalipun nggak mau disentuh lagi sama kakakku maupun bude2nya yang lain😄.


Kira-kira begitu oprasiku berjalan lancar 3hari berikutnya, budenya yang bilang "Nanti jemput ummi, di RS ya.."
Saat itu, baru deh mau disentuh sama bude nya dan disuapi



Keajaiban itu.. semoga selalu ada di dirimu ya Nak...
Semoga para Malaikat selalu melindungi perjalanan hidupmu dimanapun kamu berada.
Sehat selalu Nak...

Apapun itu, Tri.akasih banyak ya Allah...
Semoga Engkau memaafkan dan mengampuni semua dosa2 kami..

Sulungku yang Hebat

Sulungku yang Hebat

foto adalah hasil jepretan sulung saat pasca pemulihan di rumah (puasa ramadhan 2021)

Dia memang sering kesal karena mendapat mandat ini itu dari emak bapaknya untuk jagain atau memastikan adik2nya aman.

Tapi hari itu (Saat peristiwa laka, yang hampir menyabet nyawa kami) tanpa ngedumel apalagi ngeluh, dia seperti lelaki yang hendak melindungi semua anggota keluarganya.

Bahkan ayahnya sendiri sempat shock saat itu, yang seumur-umur baru kali ini saya lihat swamiku nangis karena merasa bersalah dan telah mencelakai semua keluarganya.

Setelah kami semua dievakuasi yang saya sendiri hampir nggak sadar menahan rasa sakit, yang saya kira malah tulang punggung yang kenapa2 karena untuk miring saja, masya Allah...
swami sudah bermuka darah.

Dia, sulungku memastikan semuanya dalam kondisi aman.

Dia baru sadar ketika ada salah satu polisi yang berdiri di belakang dia dan melihat kerudungnya robek. Kira-kira kepalanya luka sobek dua titik sekitar 3cm. Tapi nyaris nggak nggagas dengan dirinya.

"Nggak apa-apa kok, nggak apa-apa"
Dari suaranya aku tahu dia lagi memproteksi diri dan keluarganya agar tidak semuanya limbung.

Dia memastikan barang2, bahkan berinisiatif nelpon bude nya di Batang dan ayahnya yang menyuruh telp sepupu polisi di Sragen untuk mengurus kendaraan.

Belum selesai orang2 pada ramai meminta untuk mengambil semua barang2, dia segera keluar dan mengambil semua barang2 yang ada dalam mobil, yang entah bentuknya seperti apa.

Seorang diri... ya. dia memastikan barang2nya yang tertinggal di dalam mobil seorang diri.

Saat itu... dia sempat memastikan ada apa  dengan kendaraannya (sisi dimensi sebelah). Dan rupanya dia bisa menyimpulkan seperti apa bentuknya, lewat penjelasan film anime. Dan dia menjelaskan itu, baru dua hari yang lalu.

Apapun itulah... Allah Maha Berkehendak. Dan saya dipaksa mengikuti kehendakNya.
Mungkin kami harus terjerat dalam sebuah ranjau untuk mempelajari segala sesuatu lebih jelas lagi.

Entah bagaimana dia mobat mabit sendiri, termasuk nggagas Hikam dan kasih minum dengan aqua gelas (samar2 sy lihat) karena saya sendiri sudah nyaris tak bisa gerakkan badan, kalaupun bisa menoleh sakitnya luar biasa...
Hikam hanya nangis pada saat "Darrr!!!!", setelah itu nyaris nggak terdengar suara tangisnya lagi cuman anteng. Yang aku tahu dia cuman keluarkan air mata dengan tulang yang sudah njepat keluar.

Setelah selesai, adiknya yang lagi duduk tepat di atas kepalaku hendak disapa sama ibu2, tapi apa kata si kakak.
"Dia nggak mau kalau sama orang nggak dikenal"
Dan.. bener saja, dia langsung turun dari sofa tempat dimana aku terbaring, lalu turun dan jalan ke arah kakaknya yang langsung dipangku.

Saat itu aku hanya mbatin
"Allahu Akbar... ternyata anak ini nggak apa2" alias bisa jalan.
Karena pas kejadian, si kecil duduk di bawah jok, tepat di bawah dashboard. Saat itu aku sudah pasrah entah... apa yang terjadi dengan kakinya karena di bawah dashboard pas yang turun dan pecah.

Sepanjang di panti, si kakak rupanya benar2 protektif pada adiknya. Begitupula dengan si kecil yang hanya mau pada sulung.
Alhamdulillah Amira nggak rewel juga.

Hari itu... dimana seperti mimpi buruk di siang hari.
Tapi apapun itu, saya terima sebagai teguran keras dari Allah atas sesuatu.

#MaulanaHomeschoolers
#LikaLikuEureka
#Laka

Thursday, March 25, 2021

Awal Mula saya tahu, jika dia indigo

Satu hari seorang ipar yang diaggapnya banyak menyakitiku chat ke si sulung gara2 status horrornya, "Tinggalkan aku sendiri, atau kau akan mati" kurang lebihnya begitu bunyi status WA berbahasa inggris.

Saya sebagai ibunya yang sudah tahu karakternya yang kadang bersifat sarkastik, namun sebenarnya ia punya hati yang baik sudah terbiasa dengan hal2 semacam itu.

Bahkan beliau komplain ke swami, kenapa anaknya sampai sebegitunya?
Namun swami yang sudah tahu bagaimana jungkir baliknya saya menghadapi anak wedok ini dari teori ilmiah sampai teori sufistik dan mistik cukup berkata santai;
"Kalau nggak nggak tahu ilmunya, nggak usah ikut campur"
Dan saya lega dengan jawaban seperti itu yang cukup memproteksi saya sebagai ibunya.

Karena kasus-kasus semacam ini sejak dulu sering bener, sampai membuatku stress sendiri bagaimana keluarga swami ingin mengatur segalanya yang sebnarnya nggak tahu duduk masalahnya.

Karena bagiku ungkapan-ungkapan senada itu sudah bukan sekali saja saya mendengarnya, bahkan sejak ia masih usia kira2 10tahun.

"Kenapa ya mi? saya itu pingin dipeluk, tapi aku nggak mau disentuh"
Nah!!
Awal mula sebagai mantan pekerja sosial yang pernah menangani anak2 jalanan, korban human traffic, saya dan swami sempat curiga dan panik luar biasa.
Bahkan saya sempat mencurigai swami sendiri

"Apa yang pernah dilakukannya?"
Dia bersumpah demi Allah tidak melakukan apapun, demikian juga belakangan saya tanya pada si sulung, dengan berbagai cara.  Sampai satu ketika dia menjawab
"Ya Allah mi.. kenapa pikirannya ummi horor banget"

Lalu saya mau tak mau menarik waktu mundur jau ke belakang bagaimana saya mengasuhnya selama ini.
Sejak dulu sekali, saya memang merasa ada sekat antara saya dan dia. Jadi jika dibilang jarang memeluknya, iya banget.

Saya dengan anak ini seperti musuh dingin, yang sebenarnya sumber kekesalanku adalah dengan keluarga swami yang merambat ke swami. Lalu terakhir ke dia.
Masya Allah... benar-benar merasa bersalah.
Tapi sisi lain, saya pun tak bisa mengelak kejengkelan demi kejengkelan pada swami yang bermuara pada anak.

Dan sialnya, sebelum itu semua selesai, saya kembali mengandung Hikam.
Begitu Hikam lahir, saya benar2 kewalahan mengatasi dia. Dan saat itu, hampir saja saya tak melihat sosok Reka yang saya anggap, ini anak lebih dewasa dibanding usianya.

Meskipun di beberapa sisi dia jatuh.
Misal seperti ketika saya bilang, "Tolong ambilkan buku itu" Dia benar-benar seperti kebingungan" itu di usia 7th.
Saat itulah saya mulai dibuat kewalahan mengatasi bengongnya.
Yang belakangan ternyata itu adalah dimensi lain.

Namun Alhamdulillah di usia jelang 13tahun ini, dia mulai kembali trust kepadaku.
Mulai tidak merasa tertekan lagi denganku seperti tahun2 lalu, tepatnya sekitar usia 10tahun.




Friday, March 5, 2021

Misteri teka teki Hikam


Tidak sekedar ngobrol ngalor ngidul saja, melainkan ada penjelasan bagaimana karakter anak-anak ini. Dari ibu Endang Semarang, bu Julia Maria van Tiel dari Belanda, bu Adi D Nugroho dari Amerika, dan bu Evi dari Surabaya. Bagiku itu seperti surga dunia, kami bisa konsultasi ngobrol santai. Kurang lebih pendampingan demikian berlangsung sekitar 3-4bulan berturut-turut lamanya.

Hingga pada akhirnya saya masih merasa mentog, anak-anak ini harus saya apakan... kalau kenyataannya memang demikian karakteristiknya. Karena nyatanya Hikam, masih uring-uringan dan meledak nggak jelas, atau kadang hanya tersulut masalah-masalah sepele sekali.

Sampai di titik itu saya benar-benar pasrah, harus aku apakan...

Sabtu Minggu di masa pandemi Covid -19 menjadi touring horror, karena nyatanya benar-benar senyap, jalanan.

Sampai satu ketika, di waktu Hikam mudah tersulut api, saya merasa putus asa dan harus keluar rumah entah kemana. Saat itu kabar virus covid sudah sampai Solo. Dan acara reuni rutinan teman kelas smp swami seperti menjadi angin segar, sekaligus horror karena selain suasana jalanan yang mencekam, juga perasaan was-was yang menjadikan Hikam pun akhirnya meledak juga di acara tersebut, gara-gara saya larang nyebur ke kolam renang. Pulang dengan perasaan tetap acak-acakan. Membayangkan hari senin ditinggal swami, saya merasa benar-benar nggak kuat menghadapi emosi dia yang demikian.

Saya nggak tahu bagaimana memahami arti kata "pembiaran" dan "diikuti polanya" karena nyatanya, jika diikuti polanya akan semakin tidak berpola. Dan bayangan horror tentang dunia akademik terus menghantuiku. Apalagi tahun itu, dia sudah mulai masuk kelas 5. Sementara penambahan sederhana saja dia benar-benar kesulitan.

Sisi lain dia gemar membaca buku-buku berat seperti Madilog karya Tan Malaka, Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno dan seterusnya.

Sampai satu hari, saking kalut dan tegangnya menghadapi hari-hari karena jadwal benar-benar tidak dijalankan, saya pun mulai kalut dan menekan dia memaksa untuk mengerjakan tabel penghitungan yang aku print dari Internet. 

Entah hari sebelum atau sesudah kejadian itu, di pagi hari dia ngamuk bukan main hanya gara-gara saya ingatkan untuk kerjakan tabel perhitungan simpel ala anak sd kelas 2. Mengapa agak saya tekan? karena teringat dia menghitung 5 + 3 saja kesulitan bukan main. Apalagi hitung-hitungan uang, misalkan ia beli makanan ringan, (di sini saya kadang lupa, bahwa dia sebenarnya bisa bahkan mampu, tapi ini terkait dengan konsentrasi dan fokusnya)

Hampir 2 minggu dia meledak marah ngeri banget. Bahkan pada satu malam, untung swami sudah pulang, selesai maghrib dia teriak-teriak seperti kesetanan. Dia mengejarku dari satu ruangan ke ruangan lain berasa hendak dicekik. Saya pun mulai berpikir keras, apa yang harus saya lakukan. Orang bilang, untuk menghindari pertengkaran, saya harus ngalah dan minggir, tapi kenyataannya malah justru makin kalap. 

Saya ingat betul tentang kata "penerimaan" yang saya dengar entah dari mana saja, rasanya kenyang betul teori-teori tentang anak Gifted, tapi kenyataannya tidak ada satu teori pun yang bisa saya terapkan ke dia. Saya hanya paham bahwa dia begini dan begitu, tapi apa yang akan saya lakukan, kehabisan cara. 

Di depan tv dia duduk bersama-sama,  kecuali aku. Diam-diam aku datang dan duduk dari belakang mereka ber empat. Dia yang masih digamit swami belum lost control pun masih nampak berurat merah.

Ingat seseorang (bu Wida, dari Krya) yang berkata, bahwa "Hikam ini bisa membaca hati seseorang pun, saya pun harus mempercayai itu dan menerima itu sebagai sebuah kelebihan. Dan apa yang terjadi di detik itu, saya nggak boleh menolak sisi abstrak dari dia, termasuk ada info tentang itu.

Jujur saja, sejak dia masih usia 2 hingga 3 tahun (dimana saya kudu jajan konsultasi dokter dan psikolog serta belanja buku teori apapun tentang anak-anak unik), tidak satupun orang yang membicarakan kelebihan anak ini. 

Namun saat saya bertemu dengan teman2 Indigo, mereka seperti selalu mensupportku, bahwa ini anak luar biasa.

Bahkan teman swami ada yang bilang "Abumu sama abu nya anak ini tuh lebih tua'an abu nya anak ini mbak.. wes to, tonton wae suk..." 

Saat itu aku cuman cengar cengir nggak paham aja, apa yang dia maksud.

Bahkan sesekali dia diajak ke tempat orang pinter pakai hitung2an angka, justru ketemunya

"Anak ini, besok gedenya.. kalo jadi orang bakalan jadi orang besar yang disegani banyak orang. Tapi kalau orang biasa, banyak yang cari"

Kata2 itu seperti menguap begitu saja dari otakku. Bahkan aku nggak bisa berpikir darimana dia bisa jadi orang besar, orang ngomong saja belum bisa. Karena biasanya orang2 hebat, kecilnya juga menunjukkan kehebatan segala macam. Tapi kalau dia??

Saya adalah orang yang sangat logis. Jadi tidak menerima kenyataan itu, karena pada kenyataannya kesulitan dan kerumitan yang saya hadapi. Dari yang nggak mau bicara kecuali ah-ah, uh-uh, petakilannya, sering ilangnya, sampai mainan yang hanya dijejer2 dipilah-pilah. Tidak seperti anak-anak pada umumnya.

Kembali pada tantrumnya yang luar biasa ngeri, selain energinya luar biasa besar, sorot matanya juga tajam penuh kebencian. 

Saya masih menangkap, ini adalah acting dia, seperti halnya dia menodongkan pisau ke dada atau tangannya beberapa tahun sebelumnya di saat ia usia 7-8tahun.

Namun setelah makin kesini saya baru sadar, bahwa ini adalah bentuk protes dia karena keacuhan saya pada dunia nya, yakni dunia dimensi lain.

Hingga di pagi hari, saya pasrah nangis lebay di lantai atas membayangkan "Mengapa jalan Homeschooling" yang harus kami tempuh begitu berat?

Saya ngobrol ngalor ngidul pada bu Patricia selaku founder anak2 gifted, dan menyarankan untuk ikut meditasi. Namun team saat itu bilang tidak diperbolehkan, akhirnya mundur lagi. Lagi2 founder prana sarankan untuk ikut kelas prana, tapi ternyata belum cukup umur, mundur lagi...

Meditasi itu tiap pagi dan malam, saya ikuti semua. Perlahan ketika saya mulai tenang, anak2 termasuk Hikam pun mulai tenang. 

Satu per satu, jalan seperti dibuka semua.

Termasuk ketika ada seseorang lagi yang mengatakan tentang kepekaan dia pada suara hati seseorang, sekali lagi saya percaya pada kata orang itu, namun semakin ke sini semakin kehilangan kepercayaan diri lagi bahwa dia punya pembawaan seperti ini, hingga akhirnya ia mulai meledak lagi.

Jadi sebenarnya dalam memegang kendali anak2 Gifted, adalah diri kita sendiri. "Penerimaan tanpa Syarat"

Sejak mereka kecil, saya selalu denial ketika ada orang yang mengatakan bahwa mereka berdua mempunyai bakat indigo.

Bahkan ketika Reka bercerita bahwa dirinya pernah sampai ke Gunung Jayawijaya dan Kalimantan, konsernya Didi kempot yang katanya awal mula banyak penonton, tapi perlahan mulai habis, yang ternyata bukan manusia. Kejadian itu sudah lama sekali dia cerita. Pada waktu itu dia bercerita di dalam mobil, kami masih dalam perjalanan weekend'nan. Saya pikir dia cuman nonton di youtub atau medsos.

Tapi begitu kami main ke rumah teman lamaku, yang kebetulan dia Indigo. Semua seperti dibuka lebar-lebar...

"Mbak... dirimu wes siap durung?"

Kata2 ini aku masih bertanya2? kenapa dia selalu bertanya seperti itu ketika saya mengajari anakku sendiri sepanjang tahun?

Namun hari itu saya baru paham, bahwa yang dia maksud adalah "Siap" dengan Indigonya.

Apa kata Reka malam-malam waktu di masjid Al Falah, karena saya benar2 ingin mendudukkan perkara itu se jelas2nya.

"Hikam itu bisa menembus ke cerita animasi sejarah juga lho mi.."

"Beneran??"

"Lihat aja, dia itu baca bukunya nggak sebanyak lihat youtube"

Dan saat itu juga, ketiga mbak Iffah bilang jika dia bisa menembus ruang dan waktu saya terheran2 dan sempat berkaca2.

"Njenengan itu kudu banyak2 minta maaf ke Hikam lho yu.."

"Seusia dia, bisa melewati masa sulitnya tanpa bimbingan guru itu benar2 luar biasa..."

"Itu kalau orang nggak kuat bisa stress lho yu,"

Ya Allah... berasa mau nangis kejer, tapi kudu nahan se tahan2 mungkin karena ada dua anak itu di situ.

Habis maghrib ayahnya buka hape, dilihatin foto bude nya.

"Hikam, di belakangnya ini ada siapa?"

Hanya sekilas dia lihat tanpa menatap lama.

"Kuntilanak"

Allah ya Robbi...

Rupanya swami pun makin penasaran hingga dilihatkan foto2 keluarga kakaknya yang sangat bermasalah dengan keluarga kecil kami.

Beruntun dia sebutkan ada siapa2 saja tanpa menatap lama.

Dan... benar ketika di cek temanku pun, benar apa katanya.

Begitu pulang, saya masih belum percaya seratus persen. Dia lagi asyik cerita tentang sejarah partai dari Rusia.

Entah bagaimana akhirnya hingga kami ngobrol panjang lebar dan kepikiran dengan kujungan kami ke Museum Jend. Sudirman.

"Lha ini kamu ngapain di sini"

"Ngobrol sama pak jendral sudirman"

spontan aku bengong dengan mataku mendadak berkaca-kaca. Tapi tetap sjaa harus aku tahan, karena aku tahu dia nggak suka reaksiku yang gimana2.

"Pak Jend. Sudirman lagi ngapain?"

"Lagi sholat?

"Sama siapa?"

"Sama istrinya"

Pyarrrr... spontan saya merinding pingin nangis dan menghindari dia, lalu langsung cek pada dua orang indigo.

Dan.. hasilnya sama.

Cuman satu bilang lagi membungkuk seperti rukuk, alasannya "Orang yang sudah meninggal tidak bisa sholat lagi, berdoa lagi"

Satunya lagi bilang "Itu cuman ruhnya" bilang lagi sholat.

Dalam dua perbedaan pendapat, entahlah... 

Tapi satu hal yang pasti, Hikam bisa lihat bahwa di situ ada Jend Sudirman.

Hari-hari sebelumnya, saat dia duduk di ruang tamu sendiri saya duduk di sebelahnya, memastikan "Apakah benar dia Indigo?"

"Mas Hikam, apa kamu sok lihat hantu?"

"Enggak,"

Beberapa kali saya tanya, jawabnya selalu tidak.

Sampai pada akhirnya saya teringat rubah milik Reka yang konon katanya sering ikut dia kemana-mana. Rubah putih itu dia tampilkan di foto profil WA dia.

"Apa kamu pernah lihat rubah seperti ini di rumah?"

"Iya, itu punya mbak reka"

"Pyarrrr!!!"

"Itu! dia dipojok sana"

Akhirnya dia cerita semua bagaimana binatang-binatang itu semua membentengi depan halaman rumah kami.

Dari yang berupa rubah, beruang, singa dan entah... yang jumlahnya 3-4kali lipat dua jari tangan.

Bahkan di depan pintu ada beruang tiga ekor yang tingginya di atas kepala dia.

Saat itu aku cuman pingin ketawa ngakak kebayang dia seperti bermain boneka2 yang dijajajar seperti saat dia masih balita bermain dengan boneka yang dijajar2.

Dan itu semua... di bawah kendali dia.

Allahu Akbar...

Cerita balik ke teman indigoku yang menceritakan bagaimana Hikam.

Rupanya, ada beberapa teman dari Reka ini yang mau ngajak main Reka, namun Hikamnya menolak keras.

Dan begitupula dengan mobil panther biru kami yang rupanya juga banyak yang mau ikut Hikam, tapi dia nya menolak.

Berkaitan lagi dengan laka kami yang terjadi 3x. Sekali di Sragen yang hampir menewaskan seorang anak SMU. Sekalipun lagi2 kami benar2 tidak melihat ada motor di belakang kami.

Sekali di Yogya yang menabrak itu ibu2 mabuk, jam 2malam. Dan yang terakhir, lagi-lagi di depan kantor PA Sragen yang mana karena motor ngebut dari arah belakang kami dan menabrak mobil kami. Tapi Alhamdulillahnya tidak apa-apa.

Pilihan tidak masuk pondok

Sesaat saya berpikir, bahwa anak-anak yang memang punya bawaan indigo ini baiknya memang perlu banyak belajar realita sains. Men...