Tuesday, April 19, 2016

Dunia Panjat Dinding Reka


Juni 2014 Adalah awal pertama kalinya ia masuk ke dalam klub Panjat dinding Sragen yang langsung di bawah naungan KONI Sragen. Jadi nggak heran kalau bebas biaya apapun.

Waktu itu badannya yang kurus dan kecil sempat disangsikan pelatihnya.
"Nopo saget mbak?" tanya pelatihnya waktu awal-awal kenalan dengan pelatihnya yang kebetulan ada istrinya di situ. Jadi lebih enjoy.

Agak ragu juga waktu ditanya seperti itu. Apalagi begitu melihat teman-temannya minimal anak SD. Tapi berbekal kemauannya, pd aja waktu itu. Meskipun keluhan dari pelatih sering disampaikan. Karena melatih Reka itu bukan perkara yang mudah.
Mesti ada bergaining, tanya ini itu dan lain sebagainya seperti kebiasaan di rumah saat mau melakukan apapun.

Tapi untungnya, anaknya si pelatih itu juga semacam reka.
Jadi kalau pun ngeluhkan eyelannya Reka itu dia tahu cara mengatasinya.

"Sebenarnya tenaganya itu kuat, mbak. Tapi ya itu... suka ngeyel"

Jadi untuk mengkatrol semangatnya, sama istri pelatihnya itu agak ditarik waktu naik ke wall setinggi itu.

Awalnya kami agak pesimis karena melihat karakter Reka yang begini. Tapi lambat laun dengan kesabaran dan keterbukaan pelatih dan senior-seniornya Reka bisa meneruskan di klub ini.

Hingga di usianya 6,5tahun ia diikut sertakan PorProv Jateng. Waktu itu yang sekelas dengannya berjumlah 12 orang dan syukur alhamdulillah dia di urutan 6. Nggak buruk-buruk amatlah... hahaha...

Aku pikir, yah... hitung-hitung melatih kemandiriannya lah. Karena harus masuk karantina selama tiga hari di GOR Jatidiri Semarang.
Dan juga point bagi dia untuk ke depannya ketika hendak masuk ke Perguruan Tinggi.

Inilah yang memacu semangatku dalam ber HS. Bisa bebas mengikuti kegiatan apapun.




 

Wayang Pinjaman dari Guru Sanggar

Senin kemarin, tepatnya 18 April 2016 sepulangnya dari Sanggar tahu-tahu ayahnya laporan kalau Hikam dipinjami wayang Aswatama dari pak Muji, guru Dalangnya di Sanggar.

Spontan saja aku kaget, kenapa mesti dipinjami?
Kita yang belum mampu beli wayang beneran agak gimana dengarnya. Karena yang jelas, wayang-wayang di Sanggar itu jelas "bunyi" harganya. Dari yang stiknya pakai kayu biasa sampai stik penyu yang harganya bisa sampai 150rb.

Pagi itu ku tinggal anak-anak yang masih tidur antarkan mobil ke bengkel untuk service bareng ayahnya. Sepulangnya dari sana spontan Hikam langsung teriak nangis lihat aku pegang wayang itu.

Saat siang, agak galau juga sebenarnya melihat Hikam main wayang dengan cara kasar. Entah sejak kapan dia main dengan cara dilempar-lempar begitu. Begitu tiba saatnya aku tarik perlahan wayang pinjaman itu dari tumpukan wayang-wayang miliknya. Aku tutupi pake sarung dan ku bawa masuk ke kamar ku letakkan di atas lemari.

Rupanya dia kerasa, begitu noleh wayang itu hilang dari penglihatannya spontan nangis nggriyeng. Aku masih tetap bersikukuh untuk tidak memberikan wayang itu. Tapi rupanya dia tahu kalau itu wayang aku letakkan di atas lemari. Spontan saja tantrum hebat nggak karuan.

Awalnya ku biarkan dia nangis seperti itu. Tapi tak pikir-pikir "Karena itulah dunianya, apalagi yang bisa membuatnya senang kecuali dengan wayang-wayang itu?" pikirku spontan mengaduk-aduk pikiran dan hati.

Sisi lain memang harganya mahal, dan membelinya pun tidak mudah. Tapi kalau dihitung nominal dan kemauan itu sebenarnya tidak sebanding. Katakanlah itu wayang seharga 500rb karena stiknya terbuat dari penyu asli. Meski agak berat dikantong ketika rusak, tapi ada hal yang lebih aku khawatirkan lagi, yakni  soal kepercayaan si Guru pada kami.

Ketika wayang itu beliau pinjamkan, sudah otomatis bapak itu percaya pada kita. Karena setahuku beliau itu tidak mudah meminjamkan wayang-wayang itu pada anak didiknya. Yah... maklumlah... bukan barang murah. Dan ketika misal wayang itu rusak, kemungkinan terbesar bapak itu tidak akan percaya lagi pada kami. Itulah yang saya khawatirkan. Sementara di sisi lain, saya sendiri masih agak dag-dig-dug dengan Hikam yang agak sulit mengajarinya.
Bayangkan ketika beliau tidak percaya lagi pada kami "Orang tuanya"

Siang itu Hikam masih nangis jerit-jerit histeris seperti yang sudah-sudah. Aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana.
Waktu itu berusaha ku peluk dia berusaha mberot melepas dekapanku.
Sebisa mungkin ku tenangkan hati dan pikiran dan ku tata lagi perasaanku, dengan harapan itu akan beresonansi pada Hikam yang "kalap".
Nggak terasa air mataku jatuh dan kami nangis berpelukan semakin erat.
Wajahnya yang mungil mendongakkan ke arah wajahku yang telah basah, tangisannya makin kenceng sambil tangnnya ngelap air mataku dengan tangan satunya lagi di belakang punggungku ngepuk-puk.

Antara geli, sedih, galau nggak karuan bagaimana cara memahamkan anak ini bagaimana kehidupan ini akan berjalan.

Aku sebagai ibu tahu apa yang menjadi kebutuhannya. Tapi ketika itu sudah menyinggung hak milik orang lain aku benar-benar bingung harus memposisikan bagaimana.



Monday, April 18, 2016

Fungsi Pagar Tinggi

Fungsi Pagar ini pada mulanya adalah karena Hikam biar nggak gampang lari keluar ke jalan raya. Tapi ternyata... mereka punya akal untuk manjat pagarnya

Sunday, April 17, 2016

Awal Tekad Untuk Wayang

Barangkali inilah awal mula tergugahnya hati dan pikiran kami yang menyadari betapa betapa asyiknya dunia Wayang bagi Hikam. Waktu itu acara Camping teman-teman Homeschooling Yogya Koper Mandiri yang pada suatu sesi ada acara membuat mainan. Waktu itu saya sempat cemas begitu melihat tumpukan wayang-wayang kertas itu bersama dengan mainan tradisonal lainnya yang terbuat dari kertas dan bambu yang berwarna-warni.

Karena kejadian sebelumnya waktu kami pergi ke Jatijajar bareng rombongan teman Kantor ayahnya sempat kalap begitu melihat kios yang memajang wayang kulit dari yang kecil hingga besar.
Kebetulan uang dalam dompet nggak lebih dari 50rb. Awalnya saya langsung pasrah dia narik-narik lari menuju ke kios itu dari antara puluhan deretan kios yang berjajar di sepanjang jalan keluar.
Untung suami langsung datang, dan dia ngikuti kemauannya setelah pakai acara adat guling-guling ketika kemauannya nggak segera aku turuti.
Sempat gigit jari pula karena dalam bayanganku, ini pasti lebih dari 100rb (karena kami benar-benar nol pengetahuan harga wayang kulit). Dan setelah tawar menawar dan bujuk membujuk panjang lebar, akhirnya dapatlah dua batang wayang kecil-kecil seharga 75rb/2@.

Oh ya balik lagi bicara kejadian di Camping itu.
Siang itu, begitu matanya tertuju pada tumpukan wayang hingga larut malam (acara demi acara terlewati begitu saja).
Pikiranku saat itu cuman satu. Bagiamana kalo ini nanti akan dibagikan anak-anak satu-satu.
Ngelu rasanya nggak karuan. Tapi ketika salah satu mbak-mbak bilang kalo wayangnya dijual, lega juga hatiku. Tapi tidak berhenti sampai di situ, karena beberapa anak kecil ada yang masih menginginkannya. Saya memang nggak suka jika perilaku Hikam ini dibiarkan liar begitu saja dan menguasai apa yang dia mau, tidak peduli dengan teman ataupun orang lain. Meskipun mungkin sebagian orang tua memaklumi itu. Tapi saya sendiri sangat-sangat tidak senang jika ini dibiarkan...

Sambil hitung-hitung dompet, akhirnya suami memutuskan untuk membeli semua wayang yang tersisa waktu itu. Bahkan ketika ada salah satu orang tua yang berniat membeli wayang itu harus ngumpet-ngumpetin satu persatu tanpa sepengetahuan dia.
Meskipun dia belum kenal betul tokoh-tokoh itu, dan belum bisa menghitung dengan benar. tapi ketika salah satu diambil dia langsung bereaksi, seakan tahu betul berapa jumlah semula yang saya lihat dan bagaimana bentuknya.


 Sepanjang Acara berlangsung ia asyik sendiri hingga sore, saat lampu pendopo mulai menyala. Namun begitu suami ajak rembukan untuk mematikan lampu pendopo, barulah dia mau beranjak dari tempat itu.

Tidak sampai hanya di situ. Saat malam pun dia lebih memilih berada dalam tenda dan memainkan wayang-wayangnya dengan pencahayaan lampu senter seorang diri.
Karena saya sendiri merasa bosan melihat asyik dunia dia. Kami berdua memilih ikut acara api unggun.

Saat itulah seorang ibu-ibu memberitahukan kami bahwa Hikam tertidur di atas Batu

hahaha.... Ah....??? Akhirnya kamu capek juga le??

Sawah dan Teman

 Bagi kami, Sawah seperti menjadi salah satu bagian dari kehidupan kami sehari-hari.
Dari sekedar berkubang dalam lumpur sawah, hingga memperhatikan habitat yang ada di dalamnya sampai bagaimana akhirnya binatang-binatang itu mati karena penggunaan pestisida dan pupuk kimia.





Lembaran Worksheet Math bagi Reka


Ini adalah sebagian kecil dari latihan Matematika di rumah ketika mengikuti program Kumon.
Karena jika hanya mengandalkan soal-soal dari Kumon, itu sangat-sangat minim. Apalagi dengan karakter soal yang kurang begitu variatif, karena harus mengulang-ulang soal yang sama, ketika belum memenuhi target seperti yang diinginkan pihak lembaga. Maka dari itu, kami menggunakan print out lembaran worksheet semacam ini untuk melatih memori dia sekitar soal Penghitungan.

Hikam dan Sepatu Roda

Ini adalah untuk pertama kalinya Hikam memakai sepatu Roda pinjam milik keponakan saya di Pekalongan.

Dari cara belajarnya ini menunjukkan kuatnya kemauan dan kemandiriannya saat melakukan hal baru yang memang menarik bagi dia.
Beberapa kali jatuh, tak membuat air matanya jatuh setetes pun. Bahkan orang-orang yang mau menuntunnya pun harus disingkirkan dari sampingnya.

Pilihan tidak masuk pondok

Sesaat saya berpikir, bahwa anak-anak yang memang punya bawaan indigo ini baiknya memang perlu banyak belajar realita sains. Men...