Monday, April 4, 2016

Kegiatan Harian 7hari x 24jam


Sabtu pagi lat renang, sore panjat dinding.
Minggu sore lat nari + gamelan
Senin sore lat panjat dinding & lat nDalang + panjat dinding
Selasa pagi lat renang, sore drill Matematika
Rabu lat panjat dinding
Kamis pagi susur desa2, liat kahanan sekitar
Jumat drill Matematika
Semua jadwal itu kalo nggak diniati, benar2 capek. Apalagi ketika terdengar kompetisi di luar yg begitu menggiurkan & mencengangkan. Begitu wew??!
Tapi lagi2 ini kami niati untuk membimbing anak2 menjalani sebuah proses untuk mejadi manusia yg se 'utuh'nya.
Dalam artian, kamu nggak harus berkompetisi untuk menjadi yang "paling"
Jadilah seperti apa yang kau mau.
Kalau kamu mau jadi polwan. Siapkan mentalmu, kuatkan kemampuan berpikirmu, siapkan pula fisikmu & yg paling penting adalah rasa tanggung jawabmu sebagai abdi negara sekaligus makhluk dari Sang Khaliq yg mampu menyuarakan dan meletakkan kebaikan dan kebenaran di muka bumi.
Karena kita butuh kau polisi yg jujur, adil & berwibawa.
Semoga Allah mengijabahi doa ummimu pagi ini yg sering berkelut dg serbet mbk reka...
‪#‎resiko para emak homeschooler#
‪#‎karena mendidik adalah tanggung jawab orang tua#
‪#‎Kemampuan anak tidak bisa di sama ratakan#
#karena kemampuan individu satu dg yg lain itu berbeda#
‪#‎Perbedaan itu Rahmat, karena dengan berbeda, Alam raya penuh warna#
Dan yg pasti semua kembali pada
‪#‎Allah salah satu tujuan

Pesan untuk Reka


    "Aku nggak mau ikut kejuaraan lagi"
    "Lha kenapa emang? Temannya mbak reka kan banyak disana"*
    "Nggak mau, nggak enak"
    "Kenapa?"
    "Takut kalah"
    "Kalo menang sih, aku nggak takut"
    "Ummi nggak nyuruh kamu harus menang kok, mbak reka"
    "Tapi mbak reka juga harus berusaha sebisanya"
    "Lha masak latihan sudah hqmpir 2th lebih kok nggak mau ikut terus" (cattn ayah, bulan Juli 2014)
    ‪#‎dilematis‬/ketika ada fasilitas&guru free begini/meski lomba tidak diwajibkan,tapi itu seperti imbal balik yg harus kami bayar/sementara kami sendiri lebih menikmati proses belajarnya#
    *Ini aq tahu saat teman2nya pulang dari kejuaraan. Katanya "Banyak yang nyari Reka, tante
    "Banyak yg kenal sama reka, mbak" kata pelatihnya
    Semoga saja bukan karena makanmu yg "katanya" sampai 3jam, ya mbak reka ðŸ˜‚😣
    Dan yang pasti, semoga kamu nggak nuruni jeleknya emakmu yg selalu menghindari lomba atau kompetisi apapun ya mbak reka...
    Tulisan fiksi banyak, tapi nggak berani kirim ke mass media.
    Mundur dari kandidat calon ketua bem
    Mundur dari kejuaraan karate
    Dan beberapa hal lain yg membuat emakmu ini tenggelam dalam proses dan proses hingga kalian seusia ini.
    Lawan rasa takutmu,
    Kuatkan mentalmu,
    Eratkan persahabatanmu dengan banyak teman dimanapun dan kapanpun.
    Jangan sering nangis,
    Nangislah saat kau sujud kepadaNya karena ketidakberdayaan kita melawan itu.
    Ummi perjuangkan kau di situ, karena bagaimanapun itu adalah bagian dari cita2mu yg selalu kau elu2kan.
    Terkadang kita memang harus melewati dan berjuang melewati suatu massa mbak reka.
    Jadilah kamu ini perempuan2 bermental baja, meski terkadang lingkungan tidak menyukai keberadaanmu di sana.
    Lawan rasa takutmu,
    Nikmati petualanganmu,
    Jangan pernah merasa terbebani,
    Lakukan sesuatu dengan senyuman.
    Lihatlah kekuatan mental emakmu saat harus hidup di luar, berjuang melawan ketidakpastian hidup yg terus berubah, tanpa support keluarga.
    Dan contohlah tenang & enjoy nya seperti ayahmu menjalani hari2nya yg seperti melayang di atas kawanan angin... (tapi jangan kebablasan ya.... 😅)

    Terkadang saya ini ngerasa "Apa jangan2 semua anak laki2 itu sama seperti Hikam?"
    "Apa saya aja yg terlalu heboh atasi si satu anak ini?"
    "Atau karena saya terlalu banyak di rumah sama dia,tambah nggak ngerti bagaimana anak2 itu tumbuh"
    Meski sisi lain swami sendiri sebenarnya hampir nyerah "sudahlah, biarkan dia masuk sekolah aja"
    "Psikolog mana? Siapa? Dimana? Ayo kita datangi"
    Tapi sayangnya itu semua sudah pernah saya share dan mintai pendapat ke beberapa teman komunitas. Ada 2 yg sy ikuti.
    Komunitas anak Homeschooling
    dan komunitas Gifted. Dua2nya memang beda cara sudut pandang. Terkadang saya mengikuti salah satu pola yang mereka ajarkan, meski sisi lain ini justru menjadi boomerang bagi kami.
    Yg satu, membiarkan anak tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.
    Cuman pertanyaanya
    "Sampai kapan?"
    "Akankah sy biarkan begitu saja, dan membimbingnya seperti anak2 pada umumnya?" Pada kenyataannya jika ini saya terapkan sering menimbulkan boomerang bagi hubungan kelekatan kami.
    Sementara tumbuh kembang dia memang lebih khas, butuh penanganan dan pemikiran 2x lipat lebih dibanding anak2 seusianya yg sy lihat.
    Yang satunya lagi, tentu lebih exclusive. Menangani sesuai jalur tumbuh kembang ke khasan anak2 ini. Tentu saja dengan bantuan para tenaga ahli.
    Tapi masalahnya kebijakan negara ini tidak sejalur. Ini yang bikin repot para orang tua.
    Lebih dari sekedar finansial, tapi juga pikiran dan tenaga yg harus bekerja sendirian, seorang diri.
    Misalkan anak ini tetap sekolah, bagaimana dengan kesanggupan para guru. Saya sendiri sering kasihan melihat kehidupan para guru yg saban hari di pressure oleh tuntutan pemerintah, meskipun gaji pns nya melimpah.
    Nggak ada maksud meremehkan.
    Sejauh ini kami berdua, selaku ortu saja kewalahan menuruti kemauannya yg luar biasa kuat. Apalagi guru, yg notabene orang lain dengan tuntutan seabreg dari pemerintah.
    Akhir2 ini kami sering lakukan meditasi dan renang untuk mengurangi kejengkelan kami sepanjang hari pada dua anak ini.
    Meskipun sebenarnya ini sudah hampir bertahun2 kami lakukan, tapi tetep saja, sekali lengah. Jebol sudah kesabaran kami yang berujung pada tak terkendalinya 2 anak ini.
    Ayahnya yang tengah pegang kendali mobil sering jadi amukannya ketika kami pergi dan melewati jalur ke Sanggar nya. Awalnya saya kalap mari hikam karena kondisi jalanan sekitar itu begitu sibuk. Truck peti kemas, bus dan mobil saling salip2pan, jika Allah nggak melindungi, seper sekian senti roda goyang, tabrakan sudah.

Thursday, March 31, 2016

Sariawan hebat, Karena Depresi Wayang Hilang


Pada hari rabu, tanggal 13 januari 2016 tepatnya ketika Hikam, anak kami yang kedua sudah terlelap dalam tidurnya…. Dikarenakan seringnya dia memegang wyangkulit yang telah kami belikan…tiap bangun tidur dan dari mana pun selalu yang dipegang wayang sambil salah satunya dan seringnya kata yang terrucap adalah “Matio’….

Malam itu, kami berinisiatip untuk menyembunyikan wayang-wayang hikam dan memasukkannya ke dalam almari kursikami yang seringnya berserakan, jarang ditata rapi setelah dimainkan oleh Hikam.

Apa yang terjadi di pagi harinya ketika Hikam bangun tidur….

Sambil berjalan dan seperti orang bingung, hikam berkata “wayang…Wayang…… tanpa menangis…
Reaksi hikam setelah itu adalah sedikit panas dan pada hari Kamisnya mulai ada tanda-tanda sakit di dalam mulutnya….Sariawan…..

Pada hari Jum’atnya setelah sholat Jum’at, kami hantarkan hikam ke sanggar sarotama di Ngringo Jaten karangayar dan hikam dapat latihan dari Pak Mujiono hingga kurang lebih satu jam lamanya dari jam 14.00 sampai dengan jam 15.00 kemudian kami pulang….

Sepulang dari sanggar, di rumah…… sariawan Hikam makin menjadi di ujung lidah ada 3 kiri tengah dan kanan yang paling parah adalah yang paling kanan yang semakin membesar…

Semenjak hari Ahad, Hikam sudah mulai gak mau makan sama sekali, maunya hanya minum es jeruk dan itu yangmembuat umminya hikam kalang kabut, akhirnya kami berempat muter-muter mencari sambal dan tujuan kami pada ayam geprek yang terkenal sambalnya cukup HOT….. sesampai di rumah kami agak sedikit memaksa kepada hikam untuk diolesi sambal ayam geprek tersebut. Penolakan dari hikam pun tak terelakkan sekalipun akhirnya kami berhasil mengoleskan pada lidah hikam dan tangis pun tak terhindarkan….

Namun pada waktu itu juga akhienya aku keluar rumah lagi untuk membelikan Candistatin ri apotik andin yang harganya 44500 yang sebelumnya seringnya aku bilang uangnya kurang…oleh karena kondisi keuangan kami ketika itu kembang kempis menunggu datangnya si mumun yang tak kunjung tiba…..
Alhamdulillah…kata ummi hikam siangnya setelah di kasih sambel pada sore malam harinya, setelah rernang di kartika Hikam mau makan bahkan dengan pedas sekalipun….. dan sambil dirutinkan diolesi candistatin….
Nak…. Semoga kamu mendapatkan pelajaran ya….bahwa sariawan itu sebenarnya obatnya adalah cabe…, garam….. SAMBEL……

Monday, March 21, 2016

Totto Chan dan Penanganan Sosialisasi Hikam





Masih ada yang ingat dengan cerita Totto Chan?
Dulu sampai2 ingin sekali sekolah lagi ambil jurusan sastra anak.

Dan bacaan inilah pertama kalinya yg menyeretku ke dunia anak2. Bukan dunia orang dewasa yg "semestinya".

# Berkaca dari buku ini untuk melihat Hikam #

Terkadang memang pusing mikir ni anak kok nggak sama dengan anak-anak lainnya, sulit dikendalikan, kalo ngamuik juga nggak ketulungan bikin sesek dada.

Semalem waktu kita pulang dari sanggar, kita berhenti di SPBU. Kali ini aku mulai berani melepas dia tanpa pengawasan, kecuali ku gunakan reka sebagai penjaga biar nggak nglayap kemana-mana seperti waktu kira-kira 6bulan yang lalu. Tepatnya mungkin semenjak dia ku masukkan ke sanggar, dan enjoy dengan dunia pedalangan.

Kurang lebih 5menit ku tinggal sholat, Reka cepet-cepet wudhu. mulai khawatir juga. Tapi dalam hati, aku yakin "kamu nggak bakal ngelayap kemana-mana lagi le..."
Bukannya karena ada kucing di situ, dia jadi heboh. Tapi ada bapak-bapak juga yang bikin dia ada interaksi "meskipun entah apa yang dia katakan si om itu dia paham atau enggak, dan si om itu paham dialog Hikam juga atau enggak. Nggak peduli lagi aku. Yang penting terjadi komunikasi sambil cekikian main kucing"

Dari sini sempat kepikiran buku Totto Chan ini, bagaimana di kelas itu ada beberapa orang anak yang tidak sempurna secara fisik. Tapi Totto Chan tetap enjoy bermain dengan anak-anak itu. Bahkan kalo nggak salah, ada sebuah adegan yang menggambarkan Totto Chan mensupport anak terkena Polio itu manjat pohon. Mungkin kalo orang dewasa yang melihatnya, ini sesuatu yang sangat membahayakan. Tapi aku benar-benar salut dengan sosok Totto Chan ini.

Begitu pula aku mulai melonggarkan dan mengendurkan urat sarafku mengatasi bagaimana Hikam ini berinteraksi dengan banyak orang. Meski tentu dengan pengawasan yang nggak sering bikin gigit jari.

Secara alami dia bertemu dengan orang-orang yang nggak mau memahami dan mau memahami dia, Bertemu kejadian yang tidak mengenakkan seperti tempo beberapa hari yang lalu dua anakku ini pulang nangis kejer semua masuk rumah.

Aku dengar dari luar dia ada yang nge bully dengan omongan yang nggak enak. Awalnya Hikam yang jerit-jerit histeris, berubah jadi tangisan. dan beberapa menit kemudian dia keduanya nangis rame sambil ada yang dobrak-dobrak pintu dari luar. Karena itu sudah nggak enak, aku keluar.

Ada seorang anak lelaki seusia Hikam yang sama omongannya mungkin lebih parah dari Hikam. Tapi kalo dia, lebih pada artikulasi kata. Beda dengan Hikam yang lebih cenderung pada parahnya susunan kata menjadi kalimat. Meski begitu dia ini tipikal anak pemberani. Bahkan dia yang sering cari-cari Reka ajak main keluar.

Di lingkunganku, Reka ini emang tipikal anak yang mudah bergaul, sering dicari anak-anak usia di bawahnya atau sebaya, meski begitu dia itu sensitif. Jadi sering aja pulang-pulang nangis.

Kali ini dia nggak cukup nangis lalu masuk rumah begitu saja.
Sambil nangis kejer dia bilang "Lha aku mau minta maaf nggak boleh"
Dasarnya si emak,
"Nggak boleh ya sudah, pulang aja masuk rumah"
"Tapi nanti aku nggak punya teman"
Sampai detik ini aku mikir.
"Ya kalo tetep mau main jangan nangis. Kalo mereka nakal, balas. Kalo nggak mau balas, omongi baik-baik. Kalo tetep nggak bisa ya pulang saja"
"Tapi nanti aku nggak punya teman,"
"Kan ada adek"
"Ya masak cuman adek"

"Ya sudah, mau keluar, apa mau masuk rumah?" tanyaku ku pertegas. Kelamaan pula, keburu dengan kerjaan rumah.

"Main,"
"Ya sudah main, tapi jangan nangis."
"Tapi sama adek..."
"Ayo dek, mau main sama mbak reka nggak?"
Nggak lama keduanya ngelap wajah dengan wajahnya yang masih lengket, keduanya kembali keluar. Di luar sepi, nggak ada anak-anak lagi. Mungkin saja karena tangisan kedua anakku ini mereka pada masuk rumah.

Selang berapa menit kemudian, anak laki-laki seusia Hikam ini datang lagi senyum-senyum :D
"Aku minta maaf" kata Reka.

dan entah apa yang terjadi kemudian, begitu pintu depan ku tutup, keduanya lari cekikikan lagi.

Ahhh.... dunia anak. Sesulit dan se rumit apapun karaktermu. Kau ini tetap anak-anak yang unyu :D

Anak-anak dan Perdamaian Dunia


    Lagu fav ini selalu mengusikku, seolah mengingatkan akan arti pentingnya sosok anak-anak yang seharusnya tumbuh dan berkembang secara alami tanpa campur tangan orang dewasa.
    Membayangkan canda tawa mereka sepanjang hari, berbagi dan bekerja sama itu mungkin lebih penting untuk masa depan perdamaian dunia ini, dibanding sebuah perhelatan kemampuan dalam sebuah ajang kompetisi, yang menjadikan mereka punya nafsu untuk selalu menang dan mengalahkan lawan satu dengan yang lainnya.
    Itu yang ku pelajari beberapa hari ini dari sosok Reka yang lebih suka berteman dan bermain, dimanapun dan kapanpun ia berada. Bahkan kadang nggak begitu peduli betapa juteknya anak-anak yang ditemuinya di berbagai tempat umum.
    Waktu hamilnya dulu (setelah resign dari lembaga perlindungan anak-anak jalanan), aku merasa ada tugas untuk merengkuh anak-anak di seluruh dunia yang terkena imbas dari ego orang dewasa, seperti peperangan, perceraian serta konflik di seluruh penjuru dunia lainnya.
    Membayangkan meiliki sosok anak yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Nggak perlulah seperti anak-anak pembela HAM dan lain sebagainya yang berjuang di depan orang dewasa meneriakkan perdamaian dan kemerdekaan hidup.
    Cukup seperti Totto Chan yang baik hati, mau menolong sesama, membuat suasana lebih kondusif dan positif, yang berimbas seperti dalam lagu ini.
    Senjata membeku,
    Tentara bernyanyi
    Ikuti tingkahmu
    Tak ada lagi Naluri menguasai
    Perlahan berganti naluri berbagi
    Langit berpeluk
    Bintang bertepuk dengan sentuhanmu
    Kelak jika kau jadi pemimpin,
    Berikan hak mereka bebas dari rasa takut dan tertindas
    Huueemmmm.... indah sekali membayangkannya.
    Betapa anak-anak ini sebenarnya selalu memberikan pelajaran kita sepanjang hari, jika mau memperhatikan, dan jika diberikan kebebasan tumbuh dan berkembangn secara alami tanpa kompetisi.
    ‪#‎Pelajaran‬ ini juga ku dapat dari fakta anak-anak Gifted yang selalu menghindar dari ajang kompetisi, meskipun sebenarnya mereka mampu dan bisa lebih dari yang mereka miliki#
    ‪#‎Maafkan‬ ummi mbak Reka... Semoga kelak kau membaca tulisan ini dan tetap menjaga semangatmu untuk berkawan dan bermain dengan siapapun#
    Sinari dan Ceriakanlah anak-anak di seluruh dunia dengan segala kemampuan yang kau miliki kelak. Karena mereka adalah masa depan perdamaian dunia.
    #maafkan ummi dan ayah mbak Reka... dari segala sisi egonya sepanjang hari, semoga kelak kau lebih baik dari kami berdua#

Pilihan tidak masuk pondok

Sesaat saya berpikir, bahwa anak-anak yang memang punya bawaan indigo ini baiknya memang perlu banyak belajar realita sains. Men...