Friday, June 5, 2026

Pilihan tidak masuk pondok

Sesaat saya berpikir, bahwa anak-anak yang memang punya bawaan indigo ini baiknya memang perlu banyak belajar realita sains.
Mengapa? karena ketika ia belajar realita sains, ia akan belajar berpikir real life yang cenderung menggunakan akal logika. Tidak mengikuti perasaan apalagi tahayul sembarang macam.
Pikiran harus disibukkan dengan banyak masukan ilmu pengetahuan nyata.
Memang sesaat saya sempat gamang ketika anak2 teman, saudara semua dimasukkan ke pondok. 
Bahkan saya tahu, banyak pondok modern yang mampu unggul di bidang sains.
Tapi bagaimanapun, saya merasa bahwa komunikasi antara saya dan anak, ini akan saya lanjutkan sampai mereka benar2 siap menghadapi dua dunia mereka, atau minimal mereka merasa aman.

Tapi ketika belajar flash back melihat apa yang dialami kakak, hidupnya makin terlihat aneh dan makin menjadi-jadi saat ia menikah dan punya anak.
Begitupun dengan para ustadz apalagi dukun yang cenderung menggunakan perasaan tinimbang akal pikiran.

Untuk itulah dengan berat hati saya ambil keputusan untuk tidak memasukkan mereka ke pondok pesantren, yang mana pondok pesantren biasanya sering mengunggulkan kemampuan anak-anak indigo.

Ternyata...
Ketika saya dulu sering gembar gembor ke anak, sholat, sholat dan sholat, ngaji, ngaji dan ngaji. Dan mengatakan kepada mereka, bahwa itu adalah sarana komunikasi kamu dengan Allah tiap waktu. Ternyata begitu mereka masuk remaja, sangat terasa manfaatnya ketika mereka benar2 Indigo.
Bahwa kita harus selalu koneksi dengan Allah, bukan dengan yang lain.

Sekarang... Di saat mereka mulai meninggalkan masa anak-anak, tinggal nge "klik" bagaimana mereka harus meluruskan niat mereka, di saat bacaan mereka Alhamdulillah lancar, meskipun sesekali bacaan tajwidnya perlu dibenahi.

Sunday, October 19, 2025

perjalananku ke sangiran

Aku punya teman di piwulang becik, namanya hana sama syafa.

Hana punya adik namanya Hanif, dia anaknya usil. Kenapa usil? soalnya waktu aku nggak ikut Hana ngambil buah klengkeng, Hanif melempar buah itu di lantai bawah Sangiran. Terus Hana memanggil aku, untuk mengambil buah klengkeng lagi untuk dimakan ternyata buah klengkeng itu belum matang. 

ini dia fotonya




pak sukoco belajar manusia purba 






Museum Sangiran itu terletak di lembah antara gunung merapi, merbabu dan gunung lawu. tepatnya di daerah kecamatan kalijambe. desa krikilan, kabupaten Sragen. 

Di ruang pertama aku diajak melihat dan mempelajari bebatuan lapisan tanah di daerah sangiran. binatang binatang yang dimakan manusia purba. 

Di museum sangiran itu terkenal dengan fosil mammoth. tapi sebagian fosil nya dibawa ke Belanda.

dulu di area sangiran itu di area sangiran dulunya stepa. stepa adalah padang rumput.  
 

Sunday, August 24, 2025

Nggak bisa tidur, katanya..

Dia sering bilang, aku kalau di studio nggak bisa tidur mi..
Begitu juga dulu waktu di Kudus. Nggak itu di kos, nggak itu di asrama.
Tapi begitu sampai rumah, nyatanya dia tidur terus🤣

Tuesday, May 10, 2022

Perkembangan Amira 2-3tahun




Ledakan perolehan kosa kata terjadi dalam waktu satu tahun belakangan pasca kecelakaan di tahun 2021 Maret 28. Yang sebenarnya di usia menjelang itu dia sudah mulai ada ledakan kosa kata. Namun saat itu ia mengalami gangguan psikis karena ketidakberadaanku di sisinya selama hampir 2 minggu di Rumah Sakit, dan 5 hari di Rumah Dinas kakak, pasca operasi. 

Barulah pasca pemulihan dimulai, sekitar 2-3bulan ke belakang perkembangan kosa kata kembali dimulai, hingga bukan lagi kata yang keluar melainkan dialog dan pengajaran yang berkembang sangat pesat. Bahkan bisa dibilang daya tangkapnya di atas rata-rata anak pada umumnya. Entah ini karena pengaruh faktor susu formula atau psikologi saya yang stabil dibanding kakak-kakaknya dulu.


Saturday, January 22, 2022

Biografi 1

Namaku Seno, aku dilahirkan dari 13bersaudara dari keluarga miskin di pinggiran kota pantura.
Ayahku seorang mantan veteran yang taat beragama. Ibuku seorang bakul nasi yang dulunya hanya sering menjepit rasa lapar anak2nya dengan kerja keras dan tawakal.

Aku adalah seorang gadis berusia 13tahun yang duduk di bangku smp.
Sejak masuk sekolah favorite ini, aku kudu berjuang keras mengingat kerja keras bapak ibuku yang selalu bangun jam 1malam, sholat tahajud sembari menanak nasi dengan dandang yang teramat besar.


Kami dididik oleh bapak bermental baja, dan taat aturan. Maklum, bapak adalah seorang mantan veteran yang selalu mengidolakan sosok Soekarno dan faham betul bagaimana orde baru dan orde lama berjalan.

Tapi di tengah perjuangannya sebagai seorang pejuang, bapak harus berhenti saat akan diangkat menjadi anggota kepolisian karena gaji polisi jelas tidak bakalan cukup untuk menafkahi 7orang anaknya saat itu.

Bapak adalah anak tunggal dari seorang ibu yang luar biasa cerdas, dengan jalinan network yang sangat luas di jamannya.

Beliau mampu menguasai teknik bermacam ketrampilan. Dari menciptakan motif batik tulis sendiri, anyaman, membuat bermacam kue, sampai menjahit bermacam pakaian laki-laki maupun perempuan, tanpa mengukurnya terlebih dulu. Yang jumlah jahitannya bukan hanya satu dua lemari kuno yang besar-besar, tapi banyak. Saat itu aku tak begitu mengingatnya. Yang ku ingat pasti adalah meja besar kayu jati yang berat, beserta beberapa lemari yang berisi jejalan potongan kain-kain yang ia jahit dengan tangannya sendiri.


Uniknya lagi, ia tidak pernah memberi nama satu persatu kain itu. Bahkan ia mengingat betul bagaimana model satu persatu yang diinginkan para pelanggannya yang merasa selalu pas dengan potongannya.
Dan... kualitas jahitannya selalu kecil-kecil yang membuat baju-baju itu selalu awet dipakai.

Sementara ibuku yang nikah muda, terpaut 10tahun dengan bapak yang sudah menduda ditinggal mati istrinya meninggalkan 4orang anak laki-lakinya.

Beliau adalah anak mantan saudagar kaya raya pengusaha kayu yang akhirnya meninggal di usia ibu yang masih muda.

Bisa dibilang ibu tak memiliki ketrampilan apapun untuk mempertahankan hidupnya dengan bapak sebagai anak tunggal dari ibu yang terkenal karena kemampuannya yang serba bisa.

Tapi, nenek tak pernah mempercayakan pekerjaannya pada siapapun. Bahkan pada anaknya sendiri yang selalu dimanjakan. Begitu juga dengan ibu.

Bapak dan ibu mulai membangun usaha kecil-kecilan dari melihat ketrampilan nenek yang dikerjakannya saban hari seorang diri.

Dari ketrampilan membatik, membuat macam-macam masakan, sampai menjahit baju.

Ibu termasuk pekerja keras, karena sejak ditinggal mati bapaknya, beliau ikut dari saudara ke saudara lainnya demi menyambung hidup.

Tapi usaha yang dibangun tak pernah berjalan mulus seperti nenek yang namanya semakin terkenal.
Bahkan keluarga besar nenek ini pada masa senjanya, terkenal dengan keluarga Tailor.

Usaha-usaha yang dibangunnya tak pernah berhasil ini, membuat kondisi ekonomi tak pernah mulus. Belum lagi mengurus anak yang semakin banyak, dengan bermacam karakter yang unik ini membuat bapak makin depresi, bahkan nyaris stress.

Namun uniknya dari bapak, beliau tak pernah memperlihatkan kemarahannya ini pada ibu di depan anak-anaknya meskipun keduanya sedang dirundung masalah besar. Meskipun sikap keduanya ini terlihat kompak dalam menangani anak-anaknya, tapi sebenarnya ibu selalu ditekan untuk membenarkan sikap mereka.

Bapak benar-benar keras mensikapi anak-anak gadisnya. Beliau akan selalu berada di depan pintu dengan membawa penggaris kayu panjang atau penjalin pada anak gadisnya yang pulang terlambat sebelum adzan maghrib tiba.

Termasuk dengan 4kakak orang laki-laki. Tapi mereka selalu mendapat perlindungan dari saudara ibu kandung maupun nenek saat bapak bersikap keras kepadanya. Alhasil bapak selalu kalah, dan akhirnya lebih lunak berusaha mengambil hati mereka. Namun itu tak berhasil, karena nenek yang selalu memanjakannya dengan bermacam kue dan uang yang tiap kali mereka minta.

Jadi sekeras apapun usaha bapak, hanya sia-sia.
Hanya ada satu anak laki-laki yang sangat patuh pada bapak. Ia bahkan membantu pekerjaan ibu. Sementara kakak nomor dua selalu menjadi tameng bagi adik-adik perempuannya yang nggak punya rambut dan dianggap bodoh oleh teman-temannya.

Perangai dua orang anak laki ini sama-sama kerasnya, bahkan beberapa kali ia pernah adu jotos di luar rumah.

Kakak laki-laki yang dianggap paling soleh ini adalah anak penurut, namanya Bagas. Pawakannya kecil tapi berotot, ia memiliki semangat kerja keras yang tinggi, namun sedikit bicara.

Dalam ceritanya, ia termasuk anak yang sangat rigid.
Sampah yang sudah dibuang ibu ke cekungan tanah bakal ia ambil lagi gara-gara malamnya ia bilang kalau besok pagi dia lah yang bakalan buang sampah.
Sambil nangis tersedu ia ambil sampah-sampah itu lagi ke dalam krombong, lalu kembalikan ke tempat semula, dan ia buang lagi ke cekungan tanah.

Ia termasuk anak speech delayed.
Bahkan saat ia sudah duduk di bangku kelas satu, saat ia minta minum pada ibu. Ia menarik-narik ibu sambil menempelkan jarinya pada ujung lidah.

Di lain cerita saat ibu bapak hendak pergi, ia diminta jaga pintu. Dan, benar saja sampai bapak ibu pulang ia duduk sampai tertidur menungguinya di belakang pintu rumah.

Beda hal dengan kakaknya Hutama.
Ia terkenal banyak akal, bahkan lebih cerdik dibanding 2 saudara kandungnya.
Ia selalu mampu mengambil kesempatan di tengah kondisi ekonomi yang serba pas-pas an. Ia menjadi individu yang independent, tidak banyak memihak pada siapapun asalkan itu menuntungkan bagi dirinya. Namun selagi bisa, ketika adik-adiknya mendapat masalah ia selalu menjadi garda depan.

Dalam perjalanannya ekonomi keluarga mulai tumbuh pesat saat aku lahir. Bahkan mereka selalu bilang, masa ku adalah masa ke emasannya keluarga saat itu. Jadi nyaris saja aku tak pernah menemui kesulitan ekonomi, apalagi penyakit yang aneh-aneh karena soal kurangnya gizi.

Aku termasuk bayi yang lahir paling besar. Bobotku 4kg lebih.
Karena kerepotan ibu mengurus warung, ibu hanya memberiku asi sekitar usia 3-4bulan saja, setelah itu menggunakan susu sapi segar.

Tapi entah kenapa, rasanya aku masih ingat betul, bagaimana aroma rheumason pada puting ibu. Bahkan sempat dilakband.

Kadang aku juga heran, mana cerita yang benar? Benarkan bayi usia 4bulan sudah bisa mengingatnya hingga tua? Atau ibu yang lupa menyusuiku hingga usia berapa.

Jika tidak benar, lalu memori apakah itu?
Aku bahkan masih bisa mengingat bagaimana suasana kamar ibu yang pengap.

Aku masuk sekolah kelas 1 MI setingkat SD di usia 5tahun. Ibu mengira, aku ini anak yang cerdas karena di usia itu, hampir semua lagu-lagu saat itu aku hafal lyriknya.

Tapi apa yang terjadi?
Ternyata justru menjadi bulan-bulanan bagi ibu dan kakak-kakakku.

Aku termasuk anak pemberani, sekalipun sering dibully (kena jitakan tangan dari salah satu anak laki-laki yang paling tinggi di kelasku) Karena aku duduk paling belakang, dan ibu atau kakakku selalu duduk di sebelahku. Tapi rupanya sering kecolongan kena jitak.

Sekalipun tidak bisa, sambil menangis, aku selalu mau jika disuruh maju menuliskan sesuatu sama ibu guru yang seingatku dia guru yang cantik lagi sabar.

Saat istirahat tiba, aku selalu menghabiskan uang paling banyak diantara teman-temanku.
Bahkan ini sering menantang kesabaran ibu maupun kakakku. Karena jika apa yang kuminta, nggak ku turuti, kulit mereka bakal gosok kena cubitan dan pukulanku.

Begitu hari demi hari, hingga di ujung penerimaan raport, buku raportku kebakaran penuh dengan angka merah.

Ibu pun pasrah. Ia memasukkanku ke sekolah SD Inpres dekat rumah yang selalu terendam banjir saat musim hujan tiba.

Saat masuk di SD itu, aku merasa bahwa materi di sekolah itu benar-benar sangat amat mudah dibanding dengan sekolah MI favorite dulu.

Di sekolah "Blumbang" alias tempat sampah, kata orang-orang, termasuk anak manis yang selalu menunjukkan sikap baiknya selama di sekolah.
Tapi di rumah, aku berubah menjadi monster yang mengalahkan semua kakak-kakakku.

Tiap subuh tiba, selalu ada ritual tantrum yang bakal terjadi dan meledakkan suasana gelap menjadi gaduh karena tangisanku ketika bapak tidak membangunkanku untuk pergi ke surau bersama.

Bagiku sholat di surau seperti kewajiban tersendiri yang bakal jadi kiamat ketika tertinggal.
Dan... tangisan itu bisa sangat lama hingga menjelang sekolah tiba, uring-uringan selalu terjadi.

Aku merasa tidak nyaman sama sekali ketika apa yang ku anggap nggak pas itu terjadi padaku.
Seperti halnya soal seragam merah putih yang selalu disetrika rapi, bahkan saking rapinya, kakak perempuan nomor 2 yang selalu mengurus keperluanku menjadikan lipatan seragam itu nyaris tajam jika terkena jari-jari.
Tapi di mataku, kancing yang sedikit kendor bisa jadi malapetaka besar yang aku membayangkan itu bakal lepas dan sebagian kulitku bakalan terlihat dan tidak rapi lagi.

Apalagi jika kuciran rambut yang tidak rapi. Satu rambut pendek yang baru tumbuh di ubun-ubun yang selalu njepat keluar dari karet kucirnya, merasa seperti ada ulat yang sedang jalan mengendap-endap di kepalaku. Dan itu mengerikan sekali rasanya, seluruh badan serasa berantakan, spontan ku obrak-abrik tatanan rambutku yang telah tertata rapi. Tidak berhenti sampai di situ, baju yang sudah tertata rapi spontan aku lepas paksa yang kadang membuat kancing baju terlepas. Dan itu... bisa-bisa gagal berangkat sekolah.

Tidak cukup sampai di situ tali sepatu yang ikatannya kurang pas di kaki bakalan melayang ke udara bersama kedua sepatu dan seragam yang kulempar setelah kakakku menata dengan sangat rapi dan teliti.

Itulah permulaan hidup serasa di neraka. Dimana kakakku yang selalu dipaksa mengalah ku tuntut kesempurnaan tiap pagi saat jelang sekolah.


















Saturday, December 18, 2021

Break di Hutan Kota

Ini adalah cara kami melepas penat selama 5hari di rumah. Meskipun 5 hari ini bukan berarti di dalam rumah terus menerus, melainkan belajar mendisiplinkan diri, memahami diri sendiri, membentuk karakter agar bisa menerima masyarakat dengan berbagai kondisi, sehingga mereka satu saat fight menghadapi kondisi di lapangan yang sebenarnya. Menemui masyarakat dengan berbagai karakter.
Yang paling oenting adalah membangun mental survivor mereka agar tetap teguh dengan memahami keunikan diri sendiri yang memang berbeda dari keumuman orang.

Wednesday, December 1, 2021

Giftedness (Cara Tuhan mengirinkan Hamba terbaiknya)

Judulnya terkesan arogan.

Tapi begitulah kira-kira yang bisa saya gambarkan bagaimana anak-anak Gifted ini tumbuh dan hidup.

Mereka dengan perangkat yang spesial dari Tuhan, diberi kelebihan khusus untuk memurnikan ajaran Illahiyah yang suci.

Hanya saja, seberapa berhasil anak ini survive dalam kehidupan yang sudah bercampur baur antara kebaikan dan keburukan, lingkungan dan kemampuan dalam diri merekalah yang bakal menentukan.

Kadang saat berpikir bagaimana orang-orang Gifted ini hidup, yang kebetulan punya nasib lingkungan kurang aware dengan kondisi si anak saat dewasa pun tambah besar juga masalahnya. Meskipun ada beberapa di titik kulminasi, mereka bakal slow down seperti memiliki kesadaran penuh dari dalam dirinya sendiri. Secara penuh. Yang mana kesadarannya ini melebihi dari orang-orang pada umumnya.

Tapi yang pasti.
Anak Gifted itu bagaikan Alien yang datang dari planet yang jauh, yang memiliki pola pikir berbeda, tingkah laku berbeda dan juga pola yang berbeda.

Saat kita tanya, Mengapa dia bersikap demikian, jawabannya pun pasti membuat kita terkaget-kaget. Di luar jangkauan pemikiran anak-anak pada umumnya, se usianya.

Makanya ketika lingkungan tidak mendukung untuk, minimal "Paham" dengan mereka, akan buanyak sekali benturan-benturan yang tiada habisnya. Lalu akan melabeli macam2.
Karena kaca mata kita (orang biasa) beda, dengan kaca mata dia.
Inilah yang lalu menimbulkan masalah di kemudian hari dengan orang-orang sekitar. Dari lingkungan sekolah, rumah, hingga tempat2 publik.

Yang kemudian saat mereka dewasa memiliki masalah luka batin di masa anak-anak yang belum terselesaikan. Yang sebenarnya itu munculnya atas reaksi dari dirinya sendiri.

Kadang, mereka jadi memiliki semacam dendam, sakit hati dan lain sebagainya yang dilampiaskan ke dalam wujud yang bermacam-macam. Dari hal positif, hingga yang paling buruk dan serem.

Lalu ketika mereka jadi orang tua yang auto bawa gen Gifted pun akan bakal banyak benturan dengan banyak orang. Dari suami, ipar, mertua hingga orang-orang di sekelilingnya.

Apalagi jika ini terjadi saat kehamilan. Si bayi pun merekam peristiwa di luar dengan reaksi si ibu.
Lahirlah anak2 dengan temperamen macam-macam, yang kelak saat mereka lahir dan menjadi anak-anak pun juga 2x bahkan 10x bermasalah tergantung bagaimana si ibu mensikapi. Makanya menurutku, penting bagi mereka diajarkan pemahaman spiritual.
Bukan dogma agama yang melulu pada syariat (dalam islam) kewajiban dan lain sebagainya. Melainkan lebih dari pendalaman.
Mengapa Allah ciptakan kita yang seperti ini, mengapa Allah harus hadapkan kita pada orang2 seperti ini dan itu.

Dan satu-satunya untuk memutus mata rantai emosi negatif itu adalah dengan penyadaran diri si ibu, tentu dengan dukungan orang2 di sekitarnya, termasuk swami dan anak kelak jika memang anak sudah mulai bisa diajak berinteraksi.

Karena masalahnya tidak hanya sebatas kemampuan kognitif dan perilakunya saja.

Mereka ini.. butuh orang yang mau menerima dirinya. Meskipun menerima, bukan berarti membiarkan perilakunya yang buruk. Tidak.
Tidak ada kata Excuse dengan perilaku buruk apapun dan dimanapun.

Kadang mereka bilang
"Aku yang disakiti, mengapa harus aku yang memaafkan??"
Iya.
Tapi memaafkan, bukan berarti menerima begitu saja perilaku buruk mereka di masa lalu kita.
Memaafkan adalah untuk kesehatan diri kita.
Memaafkan juga berarti memahami konteksnya. Konteks apa yang sedang terjadi saat itu.
Kita bagaimana, dia bagaimana.
Kalau nggak ingat, sadari saja. Hadirkan orang itu dalam sudut letih kita.

Karena konsep Tebar Tuai masih berlaku untuk alam kita, ayatnya lupa😂.
Jadi, saat kita disakiti orang lain, satu saat orang itu akan menuai. Entah hari ini, tahun besok atau 10th mendatang. Tanpa kita campur tangan.
Jadi balik PRnya adalah memaafkannya, dan menyadari diri kita sepenuhnya dengan kelebihan dan kekurangan masing2.

Ketika kita sudah tahu bagaimana karakter Gifted, kita pun jadi lebih sadar "Ternyata perilaku kita memang menyebalkan bagi dia.."
Lalu saat anak-anak kita berperilaku yang jungkir balik, disadari saja. Memaafkan dan minta maaf pada orang tua kita atau orang2 di sekitar kita yang sudah membuatnya kesal mereka di masa lalu.
Dan itu PR sepanjang usia, memaafkan..karena memaafkan seperti layaknya mencabuti rumput, harus sampai ke akar2nya. Jika kita potong di permukaan satu saat akan tumbuh lagi, membuat sakit hati lagi, anak kita tidak stabil lagi..

#Reminder4Me
#PeduliGiftedIndonesia
#MaulanaHomeschoolers

Wednesday, April 28, 2021

Pra dan Pasca Oprasi


Pertama kali kejadian, yang pertama kali menjerit adalah dia, dan ternyata... Subhanallah... Allah masih sayang sama kamu Nak... disuruh lebih mendekat lagi sama Allah.

"Kalau mau nangis, nangis saja" sayup2 aku dengar suara kakaknya yang duduk di sofa sebelah dia, dimana dia terbaring.
Tapi rupanya dia nggak bisa nangis. Karena apa yang saya alami, memang nangis butuh tenaga, sementara kondisi sakit yang tak tertahan ini sudah tidak ada energi lagi untuk menangis. Hanya menahan dan menahan... entah sampai kapan...

Begitu malam datang di rumah sakit, masih di ruang IGD dimana kami terbaring berjajar ber 3, saya ayahnya dan dia.
Dia agak kesal.
Rupanya dia kesal karena wayangnya.

Saking gatelnya telingaku yang masih menahan sakit, semntara dia dengan nada marah minta wayang, aku nyletuk;
"Kamu itu apa nggak sadar, kita itu lagi diingatkan sama Allah"
"Tanganmu itu lho, lihat"
"Banyak2 minta maaf sama Allah kamu... sudah sering marah2 terus" kataku yang disambut wajah kesal dia.

Tak lama kemudian rembug demi rembug, antara kakak, swami dan bang leman dari panti sepakat kami masuk ruang VIP satu lorong.

Malam itu para suster membicarakan Hikam agar dijadikan satu sama saya atau ayahnya, biar ada teman.
Tapi dia, bersikukuh nggak mau.
Sehari berlalu, pagi itu juga dia oprasi.
Begitu selesai, saya ditawari untuk melihat kondisinya, tapi dia tetap menolak.
Saya langsung berpikir, dia masih marah dengan kata2ku semalam...

Sehari itu saya masih merasakan sakit. Dan rasanya, untuk bertahan dengan diriku saja sudah bersyukur. Jadi untuk memikirkan anak dengan emosi besar, saya benar2 harus rem kenceng sampai saya tahu benar kondisiku.

Sehari berlalu, saya yang baru datang dari ruang ICU barulah agak fresh meskipun masih kudu berjuang lagi memikirkan hari berikutnya, antara berhasil atau gagal oprasiku.

Budenya saat itu sudah harus bergantian menjagaku, namun karena keperluan keluarga masing2 akhirnya mereka pun pulang. Dan saya sendiri di kamar, yang kemudian anak2 panti pun datang menemani sehari2 secara bergiliran.

Budenya bahkan bilang Hikam nggak mau ditunggui suruhan bang leman, tapi dengan bujukan demi bujukan akhirnya mau juga ditemani.

Aku cuman mbatin..
"Lha iya, dikira enak seperti hotel. Ada ac, tv sama kulkas" tapi seharian di RS rupanya mulai ngeluh sama budenya "Bosen"


Saturday, April 24, 2021

Kata Pasrah

((foto diambil saat hendak buka jahitan yang sudah berusia hampir 1bulan. yang sakitnya luar biasa... karena selain sudah terlalu nekan ke kulit perut, juga terdapat luka bekas pencetan rembesan cairan yang bikin gatel))


Sulit dan ambigu ketika kita berkata "Pasrah".
Karena pasrah, bukan berarti kita menyerah. Melainkan menyerah setulusnya, se ikhlasnya pada kehendak Allah. Mau diapakan kita.
Berat?
Sangat.
Dulu ini saya praktekkan saat kondisi-kondisi terjepit. Namun rupanya ketika sudah menjadi ibu, saya sering lupa. Bahwa hidup adalah bagian dari serangkain manusia menjalani kehidupannya, baik kehidupan saat hidup di dunia maupun kehidupan setelah mati.

Apa yang terjadi ketika kita sudah pasrah?
Kita siap2 kehilangan apapun. Termasuk nyawa atau harta benda.
Namun ada satu keyakinan yang kadang kita lupakan.
"Bahwa apapun itu, Allah yang ar Rahman dan ar Rahim akan senantiasa menunjukkan jalan kita pada sesuatu yang lebih baik."
Karena kenaikan kelas, selalu akan ada ujian. Makin berat ujian seseorang, makin besar peluang kebesaran yang bakal diraih. Entah apapun itu...

Seperti saat kejadian laka.
Saya kaget bukan main. Merasa Allah sedang mengingatkan keras perbuatan saya beberapa minggu sebelumnya. Disamping energi negatif yang membuat hari2 makin buruk hingga akhirnya energi negatif itu terkumpul dan meledaklah saat itu.

Ya, saya lagi memperhatikan reaksi swami yang cuek, dingin dan keras kepala. Bahkan ketika saya ajak ke Kopeng tidur di Hotel dengan harapan mampu meredakan kebuntuan pikiranku sendiri.
Namun akhirnya tetap saja ditinggal tidur swami di saat saya harus mengajak bicara baik2 dengan anak2.
Saat itu, apa yang terjadi dalam hatiku.
"Jika hendak terjadi, terjadilah... aku menuruti kehendakMu Ya Allah..."
Meski saat itu saya benar2 shock.

Begitupula saat di evakuasi.
Saya hanya bisa pasrah, apapun yang terjadi dalam tubuhku, aku mengikuti kuasaMu.
Lagi2 hanya air mata yang menggelintir.

Beda lagi saat jelang oprasi. Saat itu sudah jelang ashar, saya ingin sholat dulu.
Saat itu pikirku hanya...
"Kalau nyawaku memang ini yang terakhir... saya nggak hutang sholat lagi"
Begitu merem takbirotul ikhram dengan baju selutut dan tanpa jilbab. Saya hanya bisa pasrah...

Lusssss.... tenang betul, damai luar biasa.

Sepanjang ketidaksadaranku, saya seperti sedang melihat dokter tengah membentangkan usus2ku dan organ dalamku dengan warna abu pucat, namun bentuknya lebih besar dari ukuran seharusnya.

Begitu sadar, tenggorokanku tercekat oleh dua pipa oksigen nyekat di tenggorokanku yang tak pikir itu seperti alumunium tipis.

Sayup2 aku dengar, perawat mengambil sampel darah di kakiku, dan kembali membungkusnya rapat2 dan aku dengar

"Ditutup mbak, bu sochibah kedinginan katanya nggak kuat kedinginan" kurang lebih begitu.

Perlahan aku buka mataku berat. Aku lihat di sekelilingku penuh dengan warna putih, termasuk peralatan yang terpasang di tubuhku. Para suster berlalu lalang di sekelilingku memastikan peralatan beberapa pasien di sebelahku yang tak terlihat karena tertutup mesin detak jantung.

Perlahan aku bisa gerakkan kakiku "Alhamdulillah ya Allah.. ternyata aku masih hidup" pikirku mulai menitikkan air mata antara sedih dan bahagia

Jari jemari terasa ringan bisa ku gerakkan perlahan (tidak seperti waktu cesar) dan mulai meraba perutku yang ternyata ada beberapa selang. Termasuk balutan perban di perutku sebelah kiri.

"Mbak, saya sudah dioprasi?"

"Sudah bu, oprasinya sudah selesai"

Lagi2 aku menitikkan air mata, karena nyatanya untuk menangis saja memang butuh tenaga. Jadi berulangkali saya hanya bisa menitikkan air mata terharu,

"Karena nyatanya saya masih dikasih dispensasi umur lagi sama Allah"

Saat itu saya ingat meninggalkan beberapa waktu sholat.

"Mbak... jam berapa?" suaraku berasa kesedak ketelan pipa dan hendak batuk

"Allah ya Robbi..." pikirku pingin nangis karena kudu nahan batuk karena guncangan perut.

"Jam enam bu,"

Sayup2 aku dengar, bahwa harusnya aku di ruang ICU selama 8jam. Jadi aku hitung2, harusnya kalau masuk jam 3 keluar jam 6 berarti masih kurang berapa jam?

Cara berpikirku agak nge fly

Hitung demi hitung, berarti aku bisa keluar dari situ sekitar 5jam lagi. Pikirku saat itu.

Akhirnya aku berpikir untuk ngejar waktu sholat maghrib "pikirku saat itu"

"Mbak.. adzan maghrib nya sudah dari tadi ya?"

si perawat agak bingung,

"Sudah jam 6 pagi, bu"

"Allah ya Robbi..."

Alhamdulillah...





Semoga kelak kita kembali dengan husnul khotimah ya nak...

#jelang lepas jahitan perut#

Terimakasih Allah..
Engkau berikan kami ujian yang cukup berat, dan Engkau berikan kami kekuatan serta kemampuan melewatinya.

Malaikat pelindung dari Bontot

Foto saat dimana laka terjadi, dua anak si sulung dan bontot ini diboyong ke Panti. Dimana mereka singgah dua hari di sana sembari menunggu keputusan kami bertiga yang terbaring di bangsal RSUD Salatiga.

Bahkan di saat terjadi evakuasi, bontot yang di dudukkan di atas sofa dimana aku terbaring tak berdaya. Aku tahu dia bingung karena semua orang asing.
Untung ada senior kakak yang langsung datang dan mengurusi saat itu.

Katanya saat di panti pun dia nggak mau diajak sama siapapun kecuali sama kakaknya.
Bahkan saat hendak diungsikan oleh bude nya di Batang, sepanjang dalam mobil dia happy banget mau gurau sama keponakan yang usianya 5thnan.

Tapi begitu sampai di Batang, sambutan datang dari keponakan dan bude2nya yang riuh membuat dia bingung mencari2 sosok emaknya.
Saat itulah dia nggak mau lagi diajak lagi sama bude nya yang ungsikan alias kakakku.
"Nesu ketok'e... mergo dikira mau jemput ummi. Tapi begitu tiba di rumdin tingak tinguk nggak ada awakmu" kata mbakku


Malamnya dia sempat kluyar kluyur sendiri. Begitu mau tidur juga sempat rewel.
Tapi Alhamdulillah hari2 berikutnya tetap happy sekalipun nggak mau disentuh lagi sama kakakku maupun bude2nya yang lain😄.


Kira-kira begitu oprasiku berjalan lancar 3hari berikutnya, budenya yang bilang "Nanti jemput ummi, di RS ya.."
Saat itu, baru deh mau disentuh sama bude nya dan disuapi



Keajaiban itu.. semoga selalu ada di dirimu ya Nak...
Semoga para Malaikat selalu melindungi perjalanan hidupmu dimanapun kamu berada.
Sehat selalu Nak...

Apapun itu, Tri.akasih banyak ya Allah...
Semoga Engkau memaafkan dan mengampuni semua dosa2 kami..

Sulungku yang Hebat

Sulungku yang Hebat

foto adalah hasil jepretan sulung saat pasca pemulihan di rumah (puasa ramadhan 2021)

Dia memang sering kesal karena mendapat mandat ini itu dari emak bapaknya untuk jagain atau memastikan adik2nya aman.

Tapi hari itu (Saat peristiwa laka, yang hampir menyabet nyawa kami) tanpa ngedumel apalagi ngeluh, dia seperti lelaki yang hendak melindungi semua anggota keluarganya.

Bahkan ayahnya sendiri sempat shock saat itu, yang seumur-umur baru kali ini saya lihat swamiku nangis karena merasa bersalah dan telah mencelakai semua keluarganya.

Setelah kami semua dievakuasi yang saya sendiri hampir nggak sadar menahan rasa sakit, yang saya kira malah tulang punggung yang kenapa2 karena untuk miring saja, masya Allah...
swami sudah bermuka darah.

Dia, sulungku memastikan semuanya dalam kondisi aman.

Dia baru sadar ketika ada salah satu polisi yang berdiri di belakang dia dan melihat kerudungnya robek. Kira-kira kepalanya luka sobek dua titik sekitar 3cm. Tapi nyaris nggak nggagas dengan dirinya.

"Nggak apa-apa kok, nggak apa-apa"
Dari suaranya aku tahu dia lagi memproteksi diri dan keluarganya agar tidak semuanya limbung.

Dia memastikan barang2, bahkan berinisiatif nelpon bude nya di Batang dan ayahnya yang menyuruh telp sepupu polisi di Sragen untuk mengurus kendaraan.

Belum selesai orang2 pada ramai meminta untuk mengambil semua barang2, dia segera keluar dan mengambil semua barang2 yang ada dalam mobil, yang entah bentuknya seperti apa.

Seorang diri... ya. dia memastikan barang2nya yang tertinggal di dalam mobil seorang diri.

Saat itu... dia sempat memastikan ada apa  dengan kendaraannya (sisi dimensi sebelah). Dan rupanya dia bisa menyimpulkan seperti apa bentuknya, lewat penjelasan film anime. Dan dia menjelaskan itu, baru dua hari yang lalu.

Apapun itulah... Allah Maha Berkehendak. Dan saya dipaksa mengikuti kehendakNya.
Mungkin kami harus terjerat dalam sebuah ranjau untuk mempelajari segala sesuatu lebih jelas lagi.

Entah bagaimana dia mobat mabit sendiri, termasuk nggagas Hikam dan kasih minum dengan aqua gelas (samar2 sy lihat) karena saya sendiri sudah nyaris tak bisa gerakkan badan, kalaupun bisa menoleh sakitnya luar biasa...
Hikam hanya nangis pada saat "Darrr!!!!", setelah itu nyaris nggak terdengar suara tangisnya lagi cuman anteng. Yang aku tahu dia cuman keluarkan air mata dengan tulang yang sudah njepat keluar.

Setelah selesai, adiknya yang lagi duduk tepat di atas kepalaku hendak disapa sama ibu2, tapi apa kata si kakak.
"Dia nggak mau kalau sama orang nggak dikenal"
Dan.. bener saja, dia langsung turun dari sofa tempat dimana aku terbaring, lalu turun dan jalan ke arah kakaknya yang langsung dipangku.

Saat itu aku hanya mbatin
"Allahu Akbar... ternyata anak ini nggak apa2" alias bisa jalan.
Karena pas kejadian, si kecil duduk di bawah jok, tepat di bawah dashboard. Saat itu aku sudah pasrah entah... apa yang terjadi dengan kakinya karena di bawah dashboard pas yang turun dan pecah.

Sepanjang di panti, si kakak rupanya benar2 protektif pada adiknya. Begitupula dengan si kecil yang hanya mau pada sulung.
Alhamdulillah Amira nggak rewel juga.

Hari itu... dimana seperti mimpi buruk di siang hari.
Tapi apapun itu, saya terima sebagai teguran keras dari Allah atas sesuatu.

#MaulanaHomeschoolers
#LikaLikuEureka
#Laka

Thursday, March 25, 2021

Awal Mula saya tahu, jika dia indigo

Satu hari seorang ipar yang diaggapnya banyak menyakitiku chat ke si sulung gara2 status horrornya, "Tinggalkan aku sendiri, atau kau akan mati" kurang lebihnya begitu bunyi status WA berbahasa inggris.

Saya sebagai ibunya yang sudah tahu karakternya yang kadang bersifat sarkastik, namun sebenarnya ia punya hati yang baik sudah terbiasa dengan hal2 semacam itu.

Bahkan beliau komplain ke swami, kenapa anaknya sampai sebegitunya?
Namun swami yang sudah tahu bagaimana jungkir baliknya saya menghadapi anak wedok ini dari teori ilmiah sampai teori sufistik dan mistik cukup berkata santai;
"Kalau nggak nggak tahu ilmunya, nggak usah ikut campur"
Dan saya lega dengan jawaban seperti itu yang cukup memproteksi saya sebagai ibunya.

Karena kasus-kasus semacam ini sejak dulu sering bener, sampai membuatku stress sendiri bagaimana keluarga swami ingin mengatur segalanya yang sebnarnya nggak tahu duduk masalahnya.

Karena bagiku ungkapan-ungkapan senada itu sudah bukan sekali saja saya mendengarnya, bahkan sejak ia masih usia kira2 10tahun.

"Kenapa ya mi? saya itu pingin dipeluk, tapi aku nggak mau disentuh"
Nah!!
Awal mula sebagai mantan pekerja sosial yang pernah menangani anak2 jalanan, korban human traffic, saya dan swami sempat curiga dan panik luar biasa.
Bahkan saya sempat mencurigai swami sendiri

"Apa yang pernah dilakukannya?"
Dia bersumpah demi Allah tidak melakukan apapun, demikian juga belakangan saya tanya pada si sulung, dengan berbagai cara.  Sampai satu ketika dia menjawab
"Ya Allah mi.. kenapa pikirannya ummi horor banget"

Lalu saya mau tak mau menarik waktu mundur jau ke belakang bagaimana saya mengasuhnya selama ini.
Sejak dulu sekali, saya memang merasa ada sekat antara saya dan dia. Jadi jika dibilang jarang memeluknya, iya banget.

Saya dengan anak ini seperti musuh dingin, yang sebenarnya sumber kekesalanku adalah dengan keluarga swami yang merambat ke swami. Lalu terakhir ke dia.
Masya Allah... benar-benar merasa bersalah.
Tapi sisi lain, saya pun tak bisa mengelak kejengkelan demi kejengkelan pada swami yang bermuara pada anak.

Dan sialnya, sebelum itu semua selesai, saya kembali mengandung Hikam.
Begitu Hikam lahir, saya benar2 kewalahan mengatasi dia. Dan saat itu, hampir saja saya tak melihat sosok Reka yang saya anggap, ini anak lebih dewasa dibanding usianya.

Meskipun di beberapa sisi dia jatuh.
Misal seperti ketika saya bilang, "Tolong ambilkan buku itu" Dia benar-benar seperti kebingungan" itu di usia 7th.
Saat itulah saya mulai dibuat kewalahan mengatasi bengongnya.
Yang belakangan ternyata itu adalah dimensi lain.

Namun Alhamdulillah di usia jelang 13tahun ini, dia mulai kembali trust kepadaku.
Mulai tidak merasa tertekan lagi denganku seperti tahun2 lalu, tepatnya sekitar usia 10tahun.




Friday, March 5, 2021

Misteri teka teki Hikam


Tidak sekedar ngobrol ngalor ngidul saja, melainkan ada penjelasan bagaimana karakter anak-anak ini. Dari ibu Endang Semarang, bu Julia Maria van Tiel dari Belanda, bu Adi D Nugroho dari Amerika, dan bu Evi dari Surabaya. Bagiku itu seperti surga dunia, kami bisa konsultasi ngobrol santai. Kurang lebih pendampingan demikian berlangsung sekitar 3-4bulan berturut-turut lamanya.

Hingga pada akhirnya saya masih merasa mentog, anak-anak ini harus saya apakan... kalau kenyataannya memang demikian karakteristiknya. Karena nyatanya Hikam, masih uring-uringan dan meledak nggak jelas, atau kadang hanya tersulut masalah-masalah sepele sekali.

Sampai di titik itu saya benar-benar pasrah, harus aku apakan...

Sabtu Minggu di masa pandemi Covid -19 menjadi touring horror, karena nyatanya benar-benar senyap, jalanan.

Sampai satu ketika, di waktu Hikam mudah tersulut api, saya merasa putus asa dan harus keluar rumah entah kemana. Saat itu kabar virus covid sudah sampai Solo. Dan acara reuni rutinan teman kelas smp swami seperti menjadi angin segar, sekaligus horror karena selain suasana jalanan yang mencekam, juga perasaan was-was yang menjadikan Hikam pun akhirnya meledak juga di acara tersebut, gara-gara saya larang nyebur ke kolam renang. Pulang dengan perasaan tetap acak-acakan. Membayangkan hari senin ditinggal swami, saya merasa benar-benar nggak kuat menghadapi emosi dia yang demikian.

Saya nggak tahu bagaimana memahami arti kata "pembiaran" dan "diikuti polanya" karena nyatanya, jika diikuti polanya akan semakin tidak berpola. Dan bayangan horror tentang dunia akademik terus menghantuiku. Apalagi tahun itu, dia sudah mulai masuk kelas 5. Sementara penambahan sederhana saja dia benar-benar kesulitan.

Sisi lain dia gemar membaca buku-buku berat seperti Madilog karya Tan Malaka, Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno dan seterusnya.

Sampai satu hari, saking kalut dan tegangnya menghadapi hari-hari karena jadwal benar-benar tidak dijalankan, saya pun mulai kalut dan menekan dia memaksa untuk mengerjakan tabel penghitungan yang aku print dari Internet. 

Entah hari sebelum atau sesudah kejadian itu, di pagi hari dia ngamuk bukan main hanya gara-gara saya ingatkan untuk kerjakan tabel perhitungan simpel ala anak sd kelas 2. Mengapa agak saya tekan? karena teringat dia menghitung 5 + 3 saja kesulitan bukan main. Apalagi hitung-hitungan uang, misalkan ia beli makanan ringan, (di sini saya kadang lupa, bahwa dia sebenarnya bisa bahkan mampu, tapi ini terkait dengan konsentrasi dan fokusnya)

Hampir 2 minggu dia meledak marah ngeri banget. Bahkan pada satu malam, untung swami sudah pulang, selesai maghrib dia teriak-teriak seperti kesetanan. Dia mengejarku dari satu ruangan ke ruangan lain berasa hendak dicekik. Saya pun mulai berpikir keras, apa yang harus saya lakukan. Orang bilang, untuk menghindari pertengkaran, saya harus ngalah dan minggir, tapi kenyataannya malah justru makin kalap. 

Saya ingat betul tentang kata "penerimaan" yang saya dengar entah dari mana saja, rasanya kenyang betul teori-teori tentang anak Gifted, tapi kenyataannya tidak ada satu teori pun yang bisa saya terapkan ke dia. Saya hanya paham bahwa dia begini dan begitu, tapi apa yang akan saya lakukan, kehabisan cara. 

Di depan tv dia duduk bersama-sama,  kecuali aku. Diam-diam aku datang dan duduk dari belakang mereka ber empat. Dia yang masih digamit swami belum lost control pun masih nampak berurat merah.

Ingat seseorang (bu Wida, dari Krya) yang berkata, bahwa "Hikam ini bisa membaca hati seseorang pun, saya pun harus mempercayai itu dan menerima itu sebagai sebuah kelebihan. Dan apa yang terjadi di detik itu, saya nggak boleh menolak sisi abstrak dari dia, termasuk ada info tentang itu.

Jujur saja, sejak dia masih usia 2 hingga 3 tahun (dimana saya kudu jajan konsultasi dokter dan psikolog serta belanja buku teori apapun tentang anak-anak unik), tidak satupun orang yang membicarakan kelebihan anak ini. 

Namun saat saya bertemu dengan teman2 Indigo, mereka seperti selalu mensupportku, bahwa ini anak luar biasa.

Bahkan teman swami ada yang bilang "Abumu sama abu nya anak ini tuh lebih tua'an abu nya anak ini mbak.. wes to, tonton wae suk..." 

Saat itu aku cuman cengar cengir nggak paham aja, apa yang dia maksud.

Bahkan sesekali dia diajak ke tempat orang pinter pakai hitung2an angka, justru ketemunya

"Anak ini, besok gedenya.. kalo jadi orang bakalan jadi orang besar yang disegani banyak orang. Tapi kalau orang biasa, banyak yang cari"

Kata2 itu seperti menguap begitu saja dari otakku. Bahkan aku nggak bisa berpikir darimana dia bisa jadi orang besar, orang ngomong saja belum bisa. Karena biasanya orang2 hebat, kecilnya juga menunjukkan kehebatan segala macam. Tapi kalau dia??

Saya adalah orang yang sangat logis. Jadi tidak menerima kenyataan itu, karena pada kenyataannya kesulitan dan kerumitan yang saya hadapi. Dari yang nggak mau bicara kecuali ah-ah, uh-uh, petakilannya, sering ilangnya, sampai mainan yang hanya dijejer2 dipilah-pilah. Tidak seperti anak-anak pada umumnya.

Kembali pada tantrumnya yang luar biasa ngeri, selain energinya luar biasa besar, sorot matanya juga tajam penuh kebencian. 

Saya masih menangkap, ini adalah acting dia, seperti halnya dia menodongkan pisau ke dada atau tangannya beberapa tahun sebelumnya di saat ia usia 7-8tahun.

Namun setelah makin kesini saya baru sadar, bahwa ini adalah bentuk protes dia karena keacuhan saya pada dunia nya, yakni dunia dimensi lain.

Hingga di pagi hari, saya pasrah nangis lebay di lantai atas membayangkan "Mengapa jalan Homeschooling" yang harus kami tempuh begitu berat?

Saya ngobrol ngalor ngidul pada bu Patricia selaku founder anak2 gifted, dan menyarankan untuk ikut meditasi. Namun team saat itu bilang tidak diperbolehkan, akhirnya mundur lagi. Lagi2 founder prana sarankan untuk ikut kelas prana, tapi ternyata belum cukup umur, mundur lagi...

Meditasi itu tiap pagi dan malam, saya ikuti semua. Perlahan ketika saya mulai tenang, anak2 termasuk Hikam pun mulai tenang. 

Satu per satu, jalan seperti dibuka semua.

Termasuk ketika ada seseorang lagi yang mengatakan tentang kepekaan dia pada suara hati seseorang, sekali lagi saya percaya pada kata orang itu, namun semakin ke sini semakin kehilangan kepercayaan diri lagi bahwa dia punya pembawaan seperti ini, hingga akhirnya ia mulai meledak lagi.

Jadi sebenarnya dalam memegang kendali anak2 Gifted, adalah diri kita sendiri. "Penerimaan tanpa Syarat"

Sejak mereka kecil, saya selalu denial ketika ada orang yang mengatakan bahwa mereka berdua mempunyai bakat indigo.

Bahkan ketika Reka bercerita bahwa dirinya pernah sampai ke Gunung Jayawijaya dan Kalimantan, konsernya Didi kempot yang katanya awal mula banyak penonton, tapi perlahan mulai habis, yang ternyata bukan manusia. Kejadian itu sudah lama sekali dia cerita. Pada waktu itu dia bercerita di dalam mobil, kami masih dalam perjalanan weekend'nan. Saya pikir dia cuman nonton di youtub atau medsos.

Tapi begitu kami main ke rumah teman lamaku, yang kebetulan dia Indigo. Semua seperti dibuka lebar-lebar...

"Mbak... dirimu wes siap durung?"

Kata2 ini aku masih bertanya2? kenapa dia selalu bertanya seperti itu ketika saya mengajari anakku sendiri sepanjang tahun?

Namun hari itu saya baru paham, bahwa yang dia maksud adalah "Siap" dengan Indigonya.

Apa kata Reka malam-malam waktu di masjid Al Falah, karena saya benar2 ingin mendudukkan perkara itu se jelas2nya.

"Hikam itu bisa menembus ke cerita animasi sejarah juga lho mi.."

"Beneran??"

"Lihat aja, dia itu baca bukunya nggak sebanyak lihat youtube"

Dan saat itu juga, ketiga mbak Iffah bilang jika dia bisa menembus ruang dan waktu saya terheran2 dan sempat berkaca2.

"Njenengan itu kudu banyak2 minta maaf ke Hikam lho yu.."

"Seusia dia, bisa melewati masa sulitnya tanpa bimbingan guru itu benar2 luar biasa..."

"Itu kalau orang nggak kuat bisa stress lho yu,"

Ya Allah... berasa mau nangis kejer, tapi kudu nahan se tahan2 mungkin karena ada dua anak itu di situ.

Habis maghrib ayahnya buka hape, dilihatin foto bude nya.

"Hikam, di belakangnya ini ada siapa?"

Hanya sekilas dia lihat tanpa menatap lama.

"Kuntilanak"

Allah ya Robbi...

Rupanya swami pun makin penasaran hingga dilihatkan foto2 keluarga kakaknya yang sangat bermasalah dengan keluarga kecil kami.

Beruntun dia sebutkan ada siapa2 saja tanpa menatap lama.

Dan... benar ketika di cek temanku pun, benar apa katanya.

Begitu pulang, saya masih belum percaya seratus persen. Dia lagi asyik cerita tentang sejarah partai dari Rusia.

Entah bagaimana akhirnya hingga kami ngobrol panjang lebar dan kepikiran dengan kujungan kami ke Museum Jend. Sudirman.

"Lha ini kamu ngapain di sini"

"Ngobrol sama pak jendral sudirman"

spontan aku bengong dengan mataku mendadak berkaca-kaca. Tapi tetap sjaa harus aku tahan, karena aku tahu dia nggak suka reaksiku yang gimana2.

"Pak Jend. Sudirman lagi ngapain?"

"Lagi sholat?

"Sama siapa?"

"Sama istrinya"

Pyarrrr... spontan saya merinding pingin nangis dan menghindari dia, lalu langsung cek pada dua orang indigo.

Dan.. hasilnya sama.

Cuman satu bilang lagi membungkuk seperti rukuk, alasannya "Orang yang sudah meninggal tidak bisa sholat lagi, berdoa lagi"

Satunya lagi bilang "Itu cuman ruhnya" bilang lagi sholat.

Dalam dua perbedaan pendapat, entahlah... 

Tapi satu hal yang pasti, Hikam bisa lihat bahwa di situ ada Jend Sudirman.

Hari-hari sebelumnya, saat dia duduk di ruang tamu sendiri saya duduk di sebelahnya, memastikan "Apakah benar dia Indigo?"

"Mas Hikam, apa kamu sok lihat hantu?"

"Enggak,"

Beberapa kali saya tanya, jawabnya selalu tidak.

Sampai pada akhirnya saya teringat rubah milik Reka yang konon katanya sering ikut dia kemana-mana. Rubah putih itu dia tampilkan di foto profil WA dia.

"Apa kamu pernah lihat rubah seperti ini di rumah?"

"Iya, itu punya mbak reka"

"Pyarrrr!!!"

"Itu! dia dipojok sana"

Akhirnya dia cerita semua bagaimana binatang-binatang itu semua membentengi depan halaman rumah kami.

Dari yang berupa rubah, beruang, singa dan entah... yang jumlahnya 3-4kali lipat dua jari tangan.

Bahkan di depan pintu ada beruang tiga ekor yang tingginya di atas kepala dia.

Saat itu aku cuman pingin ketawa ngakak kebayang dia seperti bermain boneka2 yang dijajajar seperti saat dia masih balita bermain dengan boneka yang dijajar2.

Dan itu semua... di bawah kendali dia.

Allahu Akbar...

Cerita balik ke teman indigoku yang menceritakan bagaimana Hikam.

Rupanya, ada beberapa teman dari Reka ini yang mau ngajak main Reka, namun Hikamnya menolak keras.

Dan begitupula dengan mobil panther biru kami yang rupanya juga banyak yang mau ikut Hikam, tapi dia nya menolak.

Berkaitan lagi dengan laka kami yang terjadi 3x. Sekali di Sragen yang hampir menewaskan seorang anak SMU. Sekalipun lagi2 kami benar2 tidak melihat ada motor di belakang kami.

Sekali di Yogya yang menabrak itu ibu2 mabuk, jam 2malam. Dan yang terakhir, lagi-lagi di depan kantor PA Sragen yang mana karena motor ngebut dari arah belakang kami dan menabrak mobil kami. Tapi Alhamdulillahnya tidak apa-apa.

Thursday, February 11, 2021

Meditasi Membuka Pintu Misteri Kehidupan anak-anak

Saat masuk Pandemi Covid -19, rasanya segala pintu dibuka buat kami sekeluarga yang memiliki anak-anak istimewa Gifted.

Kami yang sudah terbiasa belajar di rumah sebenarnya tidak terlalu berdampak apa2, kecuali les reka yang mungkin bisa dibilang menguras biaya dan tenaga.

Inti dari les ini sebenarnya dia mencari teman yang pas. Tapi rupanya dari dulu hingga kemarin tetap saja banyak nggak cocoknya dengan teman-teman kursusannya.

Begitu masuk masa pandemi semua kegiatan totally off, Hikam cuman sesekali saat latihan panahan yang akhirnya totally off lagi.

Awal pandemi seperti anugrah besar buat kami yang tidak begitu banyak jajan psikolog maupun therapi. Selain faktor waktu, tenaga, kadang banyak pikirannya juga, dan yang utama adalah biaya.

Pendampingan demi pendampingan saya ikiti, kadang saya diikutkan begitu saja. Atau malah dapat wawancara dari mahasiswa yang sedang mempelajari apa itu Gifted.

Okey, semua membuat saya plong.. karena banyak keluhanku yang akhirnya terpahami.

Hingga di ujung waktu, pendampingan demi pendampingan selesai semua. 

Namun masalah tetaplah masalah.

Saya hanya seorang ibu Homeschoolers, yang meskipun tidak bekerja, tapi tetap belepotan mengatasi 2 anak gifted dan satu balita.

Bagaimanapun kita atur jadwal sedemikian rupa, dengan obrolan demi obrolan sebagai penyemangat. Tapi ketika hati kita tidak hadir menerima dia seutuhnya, apa adanya dan se ikhlas2nya. Tetap saja jatuhnya anak2 yang pinter membaca hati orang tua bakalan marah besar karena merasa diperlakukan seperti robot.

Yang sebenarnya bagi dia sudah diperlakukan seperti robot, namun bagiku ketika melihat anak2 pada umumnya, saya sudah termasuk sangat mengikuti mereka. Atau kasarnya, mereka sudah bisa mengendalikan kami, terutama saya sebagai ibunya.

Padahal pembiaran dalam teori Gifted tidak dibenarkan.

Mulailah tantrum demi tantrum hebat terjadi, yang puncaknya saya sudah merasa tidak kuat dengan energi besarnya Hikam menguasaiku. Suami saya paksa ijin sehari.

Pagi2 pikiran kalut, saya masuk kamar dan tutup. Masa bodoh, masih ada ayahnya yang mendampingi.

Saya tidak berharap banyak saat masuk kamar, dan pikiran seperti sudah sangat runyam.

Sehari itu, aman. Karena suami tidak meminta dia kerjakan apapun.

Begitu pagi harinya, saya berpikir lagi, bagaimana caranya agar ia tetap mau belajar. Minimal mau mengerjakan tabel perhitungan.

Dengan sedikit ajakan, dia sudah mulai meledak dan melawan yang akhirnya terjadilah tantrum luar biasa. Saat aku dekap, dia berusaha brontak dan melawan, hingga kepalaku pun harus kebentur keras ke tembok dan pusing. Tapi karena kondisi kalut menahan tendangan dia, lagi2 aku dekap berusaha menahan ledakan seperti kemarin2. Karena melihat kepalaku yang terjepit, reka pun meledak emosinya melihat kelakuan adiknya dipukullah dengan gagang sapu berulang kali.

Bukannya reda dan takut, Hikam malah justru makin menjadi2.

Sampai malam hari jelang maghrib, ia kembali nangis dan marah gara2 saya minta dia ngaji. Dia cuman diam dan diam, tak beranjak dari tempat duduknya.

Entah bagaimana mulailah kembali meledak, dan mengejar2ku dari satu ruangan ke runagan lain nyaris seperti hendak mau mencekik.

Saat itu aku sadar beberapa orang yang mengatakan dia peka dengan suara2 seseorang. Saat itupun aku berusaha tulus dan ikhlas.

"Aku menerimamu apapun keadaanmu, seikhlasnya, setulusnya"

Saat itu aku keluar dari kamar sementara dia duduk di depan tv bareng suami, dia menolehku masih dengan mata penuh kebencian. Namun sebentar aku sentuh kakinya dengan berusaha meyakinkan hati dan pikiranku menerima dia, dan ia pun nangis sesenggukan minta maaf kepadaku.

Saat itupun kami nangis bareng.

Saya belum berani banyak bicara, hanya mendoakan dan mendoakan.

@@

Pagi sebelumnya saya kalut, iseng saya telpon bu Patricia yang saya anggap banyak channel dan welcome.

Beliau menyarankan anak2 ikut meditasi. Pagi harinya saya masih ragu dan berusaha menjaga mood semuanya.

Pagi yang entah ke berapa kalinya barulah saya ikuti meditasi, pagi dan malam. Entah manfaatnya apa, yang penting pikiranku tenang. Itu saja.

Satu dua minggu perlahan emosi Hikam mulai reda, dan si kakak pun ikut terbawa suasana Hikam yang tenang.

Qodarullah pagi yang entah ke berapa, pagi2 saya buka FB baca status seorang teman. Dia juga ikut komunitas Gifted. Dia Indigo.

Saya komentar sekali dua kali, dan akhirnya mendarat di messanger.

Entah bagaimana saya seperti di tuntun. Tiba2, saya mau kirim foto anak2 begitu saja.

Dan "Duarrrrr..!!!" lagi2 pernyataan dia membuatku shock akan pandangan dia tentang bagaimana dunia anak2 dengan dimensi sebelah.

Kembali pada kata "Denial". Sejak mereka anak2, bahkan balita. Saya sering denial jika ada seseorang yang mengatakan bahwa mereka itu punya dua dimensi.

Apalagi Hikam yang penampakan luarnya bukan main repotnya.

Bahkan seorang sahabat swami bilang "Awune ndekne iku luweh tuwo ketimbang awumu mbak..".

Saat itu, detik itu aku percaya.

Lantas hari2 biasa??? hal begituan mau ku apakan??? pikirku dalam hati yang berusaha terus mengejar dunia ketertinggalan dia di usia anak2 pada umumnya.

Lalu ada satu kata yang sering saya ingkari.

"Bahwa mereka bukanlah anak-anak biasa, melainkan anak-anak Istimewa, yang memiliki kelebihan di atas rata2"

Lalu batin saya perang lagi.

"Gimana bisa dibilang di atas rata2? lha wong IQ aja pas2an"

"Bakat saja nggak cukup, harus ada kerja keras" 

Tapi semakin saya ajak kerja keras, bukannya dia semangat malah ndeprok dan mbedodok. Ini terjadi pada Reka. 

Apa yang kurasakan, aku selalu merasa dalam posisi salah dalam menangani dia. Apalagi dengan bengongnya yang super duper, membuatku kudu pingin pukul dia karena saking gemesnya. 

Dan rasanya percuma saja saya ajak memikirkan hari esok, berhari-hari, berminggu2, bahkan bertahun2.

Mengapa? 

Karena ternyata, ia melihat sesuatu yang lain, selain dunia ini. Dan itu membuat dia bengong.


Awal percaya dia mampu "melihat"

Hingga pada hari-hari berikutnya, Amira rewel bukan main. 

Teringat cerita dari mbak Pu*** tentang Reka dari fotonya yang membawa teman2nya dari kuburan, saya pun mulai geram dengannya ketika adiknya rewel nggak wajar. 

Satu malam dia nangis dari sore hingga hampir jam 3pagi. 

"Apa ada yang ganggu?" tanyaku, saat itudia jengkel nggak bisa tidur di atas karena keganggu adiknya yang sesekali nangis kenceng nggak wajar.

"Iya,"

"Suruh pergi, bilang, jangan ganggu adikku" kataku yang masih ngelus2 amira yg ngusek2 nangis hadap ke tembok.

"Ngeyel kok,"katanya

"Pokoknya suruh pergi"

Saat itu aku baru mulai percaya dengan kemampuan melihatnya. Sisi lain teringat bambu kuning yang saya tanam beberapa hari yang lalu dari kantor swami. Saya minta swami untuk mencabutnya malam itu juga. Tapi sepertinya dia punya perhitungan lain, yang akhirnya sampai pagi masih utuh tertancap.

Begitu Amira bangun, hati kembali kacau ketika dia rewel bukan main. Beberapa malam sudah nggak bisa tidur, membuat badanku lemas dan pagi itu... saya pasrah dengan fisikku yang benar2 lemes. Minggu-minggu yang berat. Bukan saja berat fisik, namun juga psikisku yang mulai terganggu.

Saat ingat pohon bambu, tanpa memikirkan semua belum sarapan, saya cabut 3pohon bambu dengan bonggol lumayan besar. Dengan sisa minyak jlantah sebotol saya bakar pohon itu dengan kertas bekas print out pelajaran mereka.

"Apa sudah pada pergi?" tanyaku pada reka

"Iya, mau pada pergi" katanya

"Itu, ada yang pada naik di atas. Berisik banget. Marah2 mereka..." katanya

"Masa bodoh," pikirku dengan sisa2 energi yang ada.

Di detik itu saya nyaris seperti masuk dalam dongeng anak2 misterius dengan teman2nya. 

Mau nggak mau, suka nggak suka enak nggak enak. Saya dipaksa tahu dunia dimensi sebelah yang sebenarnya membuatku kepo, tapi tidak dalam keseharianku.

Hingga pada bonggol/bagian akar bambu susah bukan main. Api lagi-lagi mati, sementara badanku sudah mulai gemeteran antara lapar, capek, ngantuk, campur aduk nggak karuan.  

"Dibuang aja ya mbak Reka?" kataku pada sulung yang riwa riwi keluar masuk, keluar masuk.

"Dibuang situ aja, gimana?" pikirku menunjuk pada tanah kosong sebelah rumah tetangga.

"Jangan mi, situ sudah buanyak banget"

"Yo malahane to, biar ada temannya"

"Pokoknya jangan"

"Lha terus dimana?"

"Tapi jauh 'e, Mi"

"Nggak apa-apa, ayo sekarang" kataku dengan keringat mulai dingin sempoyongan. 

"Tapi untung saya masih bisa genjot semua energiku yang akhir2 ini benar-benar seperti  sedang melayang"

Ku antar dia ke Tempat Sampah Sementara dekat GOR. Sebelum sampai ke tempat pembuangan saya sengaja berhenti daripada dianggap aneh membuang sampah kayu bakar.

"Sini aja mi," katanya

Begitu turun, "Sudah kamu doakan?"

"Sudah" katanya

Hari berikutnya Amira masih sedikit rewel, dia cerita kalau kemarin sepanjang pulang masih ada beberapa yang ikut.

Saat itu saya yang belum tahu banyak dunia semacam itu, kesel bukan main.

Tapi begitu makin kesini, 


Awal Hikam mulai "kebaca"

Hari minggu seperti biasa kami bingung mau kemana, tapi hatiku seperti dituntun keras untuk ke tempat mbak If***.

Ayah pun punya agenda mampir ke rumah saudara yang tahu ilmu2 "tuwo". Nggak banyak yang kami dapat dari dia yang paham detil sejarah orang jawa dengan kerajaan2nya.

Begitu kami sampai ke rumah temanku, dia mulai tanya soal Reka. Minggu2 sebelumnya dia memang pernah menanyakan soal Reka. Tapi saya nggak paham, dan nggak nge klik juga ke arah itu.

Dia mulai cerita soal kondisi yang masih limbung, dimana masa itu pernah dilewati Hikam sebelumnya yang luar biasa berat.

Dia pun mulai bercerita, bagaimana Hikam mampu melewati masa-masa beratnya dengan selmaat, dimana semua orang kadang bisa stress karen amengalami fase2 yang dialami Hikam.

Spontan mataku mulai berkaca2 membayangkan beberapa tahun sebelumnya yang betapa sulit dan merepotkannya menghadapi hari2 bersamanya.

Saat malam ayahnya menunjukkan foto bude dan pakde nya, dia tanya, ini siapa? kata ayahnya.

"Kunti" jawabnya santai kembali pegang hp

Temanku menjawab, "Iya"

Spontan aku kaget bukan main, "Apa beneran?" dalam batinku

Lagi2 ayahnya menunjukkan beberapa foto, termasuk foto kakak2nya beserta keluarga, ia tanya Hikam dan cek ke temanku. Iya mengiyakan begitu saja semua yang dikatakan Hikam.




Sunday, June 14, 2020

Ketika Beliau Tak ada

"Ummi ni, crewet banget" kata sulung
"Mumpung masih hidup mbak reka, kalau ummi sudah nggak ada, toh kamu bakal kangen sama crewetnya ummi"😅

Spontan jadi ingat alm ibu yang selalu crewet kasih saran ini itu, begini dan begitu.
Sekarang begitu beliau sudah meninggal, segalanya jadi terasa berat. Terutama di saat kondisi2 berat seperti hendak melahirkan Amira, Atap rumah jebol sampai repotnya masa renovasi, hingga masa tantrum hikam hingga menghadapi sulitnya pengasuhan dua anak Gifted dengan komorbid bawaan indigo.
Rasanya benar-benar hampa dan Sepi...

Dulu di tengah waktu senggang, sepi, atau tengah dirundung masalah berat, ibu adalah tempat bercerita dan bersandar pertama. 
Sekalipun kadang beliau nggak memberikan solusi, atau bahkan membuatku semakin takut, atau juga justru marah karena dikritik habis2an, 

Padahal sejak sekolah hingga 

Lalu saat beliau pergi, kadang masih ada angan-angan;
"Emak baru pergi jauh, belum pulang. Nanti kalau pulang aku mau cerita"
Begitu juga dengan meninggalnya alm Bapak dulu, perasaan begitu menghantui berbulan-bulan, bahkan entah beberapa tahun kemudian. Bahkan rasanya lebih membekas karena kesempatan ngobrol sama alm Bapak sangat sangat singkat.

Lalu sesaat aku berpikir tentang orang-orang yang saling melukai dan membenci satu sama lain, lalu yang satunya meninggal.
Adakah rasa "gelo" meskipun sekelebat??

Masalahnya ada kasus sepasang suami-istri sama-sama sudah tua dan saling membenci. Ketika si swami meninggal, istri sama sekali nggak mau jenguk makamnya. Bisa jadi karena saking kejemnya si lelaki semasa hidup. Tapi... entahlah. Naudhubillah min dzalik.

Kemudian berpikir tentang orang2 benar adanya, uban bukan berarti selalu dekat dengan kematian. Tapi dibanding anak2 remaja yang tulangnya masih kuat-kuat, tentu beda kan?
Kadang atau bahkan sering kita bersinggungan dengan mereka dan membuat masalah yang akhirnya berujung keributan dan kebencian satu sama lain.

Tuesday, May 26, 2020

Healing self di masa Pandemi

Akhir bulan Mei, tepatnya tanggal 26 Mei 2020, dimana aku harus mengunci diri dari seluruh artikel yang membuat pikiran terkoneksi ke mana-mana begitu sekali lihat, begitu menakutkan. 

Dari Konspirasi dunia, sampai kondisi lokal yang mana tiap gang ditutup. 

3hari berturut2 pikiran berjalan serem sekali. Bahkan analisa logika yang sangat-sangat menyeramkan, yang membuat kacau nya pikiran hingga berhenti total dan nggak bisa berbuat apa-apa. 

Apakah tiap orang mengalami hal serupa? 
Saya rasa Tidak. 

Inilah resiko pada diri Gifted, yang pernah saya temui, sekalipun saya juga barangkali bukan gifted. Tapi dari teori itulah setidaknya dapat membantuku memahami diri saya sendiri. Dan keluar dari masalah berat yang sedang saya alami. 
Ada banyak hal yang biasa aku lakukan sebenarnya, di saat seperti ini. Harus ada pelampiasan yang mesti dikeluarkan semua. 

Dari sekedar teriak2 (nggak mungkin, karena kita ada di perumahan),  Jalan-jalan naik motor (pikiran kadang blank, lebih mengkhawatirkan. Apalagi kondisi ku sekarang bener2 lemes gara2 pikiran), ngobrol dengan seseorang, tidak mungkin. 

Karena tidak mungkin kan??  Kita memaksa kondisi lingkungan normal semua. Kecuali diri kita yang berubah.
Dan perubahan itu menantang pola pikir kita yang maunya serba sempurna. 
Tidak mungkin

Dan kemungkinan ada pemicu lain, yakni PMS. Jelang Haid. 
Bulan ini sy haid awal2 bulan. 
Dan bulan ini kemungkinan juga minggu2 pertama. Biasanya saya sensi di minggu2 sebelum haid. Itu yang saya rasakan

Belum lagi dipicu oleh anak-anak yang belajar survive di dalam rumah. Memahami satu sama lain yang kian hari sering ada penekanan teriak. 

Tuesday, November 27, 2018

Sosialisasi yang Canggung

Waktu duduk di bangku sekolah dasar, aku ini termasuk anak manis yang selalu menjadi perhatian guru-guru.
Dan... memang berusaha menjaga image itu agar bisa dilihat sebagai seorang anak yang baik.

Menjelang masuk kelas 3, ada murid baru dari sekolah lain. Dia lah anak lelaki pertama kali yang kulihat sebagai anak lelaki yang sempurna.
Kenapa? Selain bajunya yang selalu disetrika rapi, lengkap dengan sepatu dan topi nya yang bersih membuat wajah ke arab2an itu makin menarik, meski aku nggak suka dengan rambut ikalnya.

Dialah Zaky, anak yang paling sensitif dan sering mengamuk hanya gara-gara masalah sepele, seperti misal sikunya kesenggol teman.

Bagi kami, ia adalah anak misterius yang selalu diam memendam masalahnya. Entah apa aku nggak tahu, tapi setahuku ia punya masalah serius dengan keluarganya. Kabar itu aku tahu justru dari teman SD saat duduk di bangku SMA.

Itulah pertama kalinya ia meminta dua teman akrabku mengantarku ke rumahnya.
Dan kondisinya, benar-benar di luar dugaan dari penampilannya yang dulu yang paling rapi dan terawat.

Saat pagi tiba, ia selalu keluar kelas dan termenung di depan kubangan lapangan yang selalu dipenuhi air kecoklatan saat musim hujan setinggi 1,5m dari lantai sekolah untuk mengantisipasi air hujan masuk.

Entah apa yang terjadi, namun aku merasa punya ikatan batin yang tak wajar dengannya. Karena belakangan, ia selalu hadir dalam mimpi-mimpiku hingga jadi mahasiswa di Yogya.

Bukan mimpi romantisme atau drama ala korea, melainkan simbol-simbol yang sulit aku bahasakan. Seperti diantaranya; aku melihat sosoknya di depan gundukan tanah semacam kuburan orang China dengan nuansa gelap menghadap sumber cahaya putih yang terang, dan segambreng mimpi-mimpi isyarat yang muncul hampir tiap malam seperti menonton drama serial yang bertahun-tahun lamanya.

Dan itu sangat menjengkelkan. Apalagi saat menjadi mahasiswa, mulai melirik beberpa lelaki yang bagiku masuk kriteria.
Tapi entah mengapa mimpi itu seperti menterorku tiap malam.

Hingga aku harus menyadari se sadar-sadarnya, bahwa itu adalah cinta pertama yang sejati. Tapi ternyata....?
Entah apa.
Nyatanya hingga aku berkeluarga pun mimpi-mimpi isyarat itu masih kerap muncul. Namun kini aku menganggapnya pesan alam yang dikirim padaku. Untuk apa?? Aku nggak tahu juga.

Itulah awal mula aku memberikan lampu kuning pada seorang lelaki, dan memberanikan diri tanya kabar Zaky pada teman SD dulu di kampung halaman. Dalam surat itu terang-terangan aku katakan kalau "aku kangen", makanya aku memaksa mereka agar menemukan alamat rumahnya yang sudah pindah ke luar kota.

Kenapa? karena aku ini orangnya, ketika punya keinginan sesuatu, harus segera terpenuhi. Tidak ada kata tidak mungkin dalam kamus ku. Itulah mengapa aku memakai kata-kata "kangen"

Tangan berasa lemas, nafas serasa berhenti menyimak detak jantung yang tak beraturan saat menulis surat itu... Rasanya nyaris seperti nyemplung sumur. Karena sejak smp, aku ini terkenal dingin dengan lawan jenis. Bahkan teman kuliahku bilang, aku ini seolah-olah seperti nggak butuh lelaki.

Itu terpaksa aku lakukan demi memecahkan misteri mimpi-mimpi panjang bertahun-tahun yang bagiku itu sudah sangat mengganggu di tiap malam, layaknya menonton sinetron.

Satu saat kami sengaja ketemuan di rumah teman. Lagipula, bisa kacau kalau di rumahku sendiri.
Dan pertama kali kami ketemu, bukan aku tapi dia yang mengintrogasiku lebih dulu. Darimana dapat alamat rumahnya. Ini yang menjengkelkan amat sangat. Harga diriku terasa sedang di bawah ketiaknya.

Ada satu hal yang ku perhatikan dari sosoknya yang hampir pas dengan mimpi-mimpiku.
Ia misterius, dan nampak seperti orang punya gangguan jiwa. Bukan gila, tepatnya seperti pemakai narkoba.

Dalam pertemuan berikutnya, ia mulai curiga bukan main. Siapa aku sebenarnya, darimana ia tahu semua tentang kehidupannya. Karena baginya, kata-kataku ini sudah sangat mengaduk-aduk privasinya saat itu.
Bahkan ia tidak percaya sama sekali jika aku tahu hanya lewat mimpi-mimpi isyarat.

Saat itulah rasa kesalku mulai muncul. Bahkan performance dalam mimpiku yang sempurna sangat bertolak belakang dengan kenyataannya.

Dia bukan lelaki sempurna lagi.
Apalagi saat aku berhasil membongkar rahasianya bahwa ia dulu mantan pemakai narkoba kelas berat yang mana nyawanya hampir melayang gara-gara over dosis.

Ditambah lagi seorang perokok dan peminum. Itu benar-benar menjatuhkan harga diriku sebagai seorang mahasiswi yang dianggap cerdas namun punya selera rendah. Karena selain tidak mengenyam pendidikan bangku kuliah, ia juga mengaku kadang jadi pengamen jalanan. Hancur bukan main harga diriku.

Tapi satu hal yang membuatku berat, yakni keluarganya.

Yang aku heran adalah satu. Di mataku Zaky ini lelaki hancur berantakan, tapi ia tetap dihargai dan disegani adik-adiknya. Begitu juga denganku yang belakangan diminta menginap di rumahnya oleh ibu dan adik-adiknya.

Ya! mungkin aku ini termasuk mahasiswi bebas main ke rumah cowoknya, bahkan menginap 1-2hari itu seperti hal biasa.
Tapi satu hal yang ku pegang kekeh. Sentuhan tangan (semacam bersalaman saja nggak pernah), apalagi yang lainnya. Ini juga berlaku buat semua teman lelakiku di kampus. Aku paling nggak suka kontak fisik dengan perempuan, apalagi lelaki.

Bisa dibayangin kan?? Di sana apa yang bisa kita lakukan selain ngobrol ngobrol dan ngobrol. Baik pada adik-adiknya, ibunya, neneknya, bahkan dia sendiri hingga pagi.

Apa nggak ada keinginan? Tentu saja ada.
Tapi aku tahu diri, bahwa jika itu terjadi "sekali saja" Hancur semua masa depan yang dari dulu aku susun.

Kalau bisa dibilang, inilah tempat pelarianku yang sesungguhnya dari rumah dan keluargaku yang ku anggap seperti neraka. Sejak dulu semua kata-kataku dianggap omong kosong dan konyol.

Dalam keluarga Zaky, aku merasa bahwa semua kata-kata dan tindakanku dihargai, bahkan oleh ibu dan neneknya, apalagi adik-adiknya.

Di sinilah aku merasa menjadi manusia seutuhnya yang mana aku merasa, "seperti inilah harusnya sebuah keluarga" sekalipun dengan segala kekurangan sana-sini. Termasuk ibunya yang telah cerai bertahun-tahun kini main-main dengan lelaki lain yang umurnya jauh di bawahnya.

Di akhir jelang wisuda, ternyata ibu bapakku membuat spion di belakangku.
Semenjak Zaky datang ke rumah, ibu langsung mengintrogasinya dari A-Z seperti yang dilakukan pada saat suamiku pertama kali datang ke rumah.

Itulah detik-detik kehancuran hubungan kami.

Aku sadar, dia bukan lelaki baik-baik. Tapi sisi lain sudah terlanjur merasa nyaman dengan keluarganya. Karena nyatanya jika aku ngobrol dengan Zaky adanya sering pertengkaran demi pertengkaran yang sepertinya kami memang nggak cocok satu sama lain, sekalipun kami sama-sama saling merindukan.

Saat tahu latar belakang keluarga dan diri Zaky. Ibu ketakutan bukan main dan mengancamku nggak akan menganggapnya anaknya lagi jika nggak segera putus hubungan dengannya.

Saat itulah aku bermunajat kuat minta pertolongan Allah agar ditunjukkan yang terbaik untukku saat itu.
Karena merasa sendiri lagi di tengah keluarga yang tidak menganggapku manusia itu adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidup. Apalagi kehilangan sosok nyaman si ibu Zaky.

Saat itulah beberapa orang lelaki datang dan pergi seperti Allah sedang memberikan pilihan-pilihan itu.




Sunday, November 25, 2018

Jelang Kelahiran Amira

Ruang kelas yang terlalu luas ini kadang sulit dijelaskan pada khalayak.
Biarlah keluarga yg peduli dg Home Edukasi saja yang mau memahaminya.







Lebih akrab dengan apa itu babi laut, bintang laut, ular pantai, jingking, ketam kelapa, terbentuknya pasir putih beserta batuan karang  yang menyimpan air melimpah di dalamnya.

Gunung Kidul yang hampir rata berupa tanah berbatu menjadikan kering, namun menyimpan air melimpah di dalamnya layaknya spons.

Pantai Kodok, Gunung Kidul, Yogya
#JagaAlamKita
#Jangan pungut apapun biota yang ada di dalamnya
#BawaPulangSampahmu

dari Game Zombie hingga Google Translate

Dari Game Plants vs Zombie sampai mengenal jenis sayuran, buah, macam-macam bunga, hingga microorganisme semacam jamur.





Tivus dan Pengaruh Pikiran Reka

Saat reka divonis tivus, aq jadi ingat beberapa puluh tahun yang lalu. Tepat seperti Reka saat ini yang duduk di bangku kelas 4 SD.

Saat itu "rumangsaku" pikiranku benar-benar gaduh soal dunia perpolitikan Orde Baru dan Orde lama yang sering aku nguping dari diskusi alm Bapak dengan kakak laki2ku.
"Rumangsaku" Indonesia dalam beberap tahun bakal hancur sehancur2nya. Atau perang yang bakal memporak-porandakan suasana pantura yang sudah panas saat itu.
Yang ku pikirkan adalah, aku pingin melarikan diri dari hingar bingar itu, yang sebnarnya itu hanya ada dalam pikiranku sendiri. Karena nyatanya saat itu Indonesia tengah merayakan tahun keemasan 50Tahun merdeka Era Soeharto.
Tapi lagi2 alm Bapak menuding itu karena aku kecapekan. Atau suka jajan yang nggak sehat.
Soal capek, aku ink termasuk anak yang banyak melamunnya daripada petakilannya. Soal jajan nggak sehat, bisa jadi karena kantin sekolahku dulu memang dekat KM yang jorok, dan aku sebenarnya agak anti jajan di situ. Maklum sekolah inpres yg tiap hujan mesti kebanjiran.
Tapi yang paling menguras pikiranku saat itu adalah pikiran kekhawatiranku soal perang, kehancuran dst.
Saking panasnya, sampai nggak sadar beberapa hari dan kepala pun mulai botak karena itu.
@@@
Beberapa hari belakangan dia sering ngeluh kalau malam dia nggak bisa tidur. Makanya untuk menghibur diri, dia selalu tidur di depan tv hingga larut.
Awalnya aku kira dia mau nonton film apa, tapi ketika tahu dia nggak bisa tidur gara-gara ada rasa aneh di rumah, aku pun baru sadar itu. Bahwa dia memang seperti itu, meskipun aku sendiri jarang bahkan nggak pernah cerita horor di rumah.
Soal hal-hal semacam ini jarang aku menanggapi serius. Beda dengan ayahnya, yang akhirnya dia mau cerita terus terang apa yang dia rasakan dengan energi negatif saat berada di tempat-tempat tertentu.
Awalnya aku tuding, itu karena dia sering nonton film minicraft tentang monster school. Tapi ketika dia cerita, "Aku itu kalo nonton film-film begitu bisa kebayang2 berhari-hari" baru sadar kalau dia anak visual memang begitu, ketika mampu memvisualisasikan sesuatu, akan susah hapusnya.
Awal dari demam nya yang ku curigai adalah pola makannya yang susah dan pilih-pilih, selain lama banget.
Tapi ketika aku berpikir flash back ke belakang akhir-akhir ini, dia seperti tengah memikirkan sesuatu.
Apa itu? Entah lah.
Yang jelas dia sering mengungkapkan kecemasannya dengan mengalihkan pada pembicaraan yang sebenarnya aku tahu, dia nggak sedang berpikir itu.
Tapi lagi-lagi karena si emak selalu meminta pengertiannya, dia seperti menelan dan menekan semua keinginan-keinginannya yang banyak.
Seperti diantaranya dia selalu mengeluh kalo dia nggak punya mainan baru di rumah. Padahal yang kita tahu dibanding adiknya, dia lebih sering membeli mainan kecil2an yang dia beli dari uangnya sendiri.
Aku tahu yang dia maksud nggak punya "mainan" itu artinya mainan besar dengan bandrol harga yang mahal.
Dia nggak melihat harga itu, dia hanya melihat mainan itu bisa "diapakan" atau dirubah menjadi "apa". Dan untuk mendapatkan mainan semacam itu, sudah mesti kudu masuk ke toko mainan yg bukan ecek2 lagi.
Kadang apa yang dia harapkan, di kota Sragen ini belum tentu ada. Kalau misal nggak ada, di toko mainan dia akan mengambil sembarang mainan yang mana aku tahu, itu bukan yang dia harapkan. Tapi berpikirnya "daripada nggak dapat apa2". Dan beberap hari kemudian dia akan nggremeng lagi nggak punya mainan baru.
Kenapa aku bisa bilang begitu? Karena itu sudah pernah terjadi berkali2 dan insya Allah sy paham betul bagaimana dia.
Seperti misal ketika aku lagi googling mobil2an, dia meng iya kan saja. Meski dengan  catatan tunggu rejeki dulu, atau ambil uang tabunganmu. Ia pun hanya mengiyakan seperti pasrah.
Padahal beberapa bulan ini dia baru mengeluh bosan di rumah dan ingin ikut les ini dan itu.
Nggak tanggung-tanggung, biaya les nya dia menyedot hampir 60-70% dari anggaran pendapatan si ayah. Yang akhirnya kami kudu ikat pinggang kenceng2.
Tapi itu semua meruap hanya dalam hitungan waktu 2-4bulan. Bayangin dengan biaya pendaftaran masuk dan ongkos PP keluar kota nya mak... karena di Sragen belum ada kursus semacam itu.
Kami pun senang, karena akhirnya kami bisa bernafas lagi😅
Sempat sy tawarkan gimana kalo sekolah, dia beralasan lagi bla bla bla... Termasuk ketika ia mengeluh kalo temannya hanya itu-itu saja, baik di tempat les maupun di rumah.
Aku balik lagi, di Sekolah pun sama. Temannya itu-itu lagi. Lalu ku contohkan teman-teman sekitar rumah yang nyaris nggak pernah keluar kota atau piknik kemana-mana. Begitu mereka pulang sekolah, di rumah main sama anak itu-itu lagi. Bahkan di hari libur pun mereka tetap di rumah. Dan itu nggak masalah.
Bandingkan dengan kamu yang hampir tiap minggu pasti keluar rumah dan main ke tempat2 terbuka, atau sekedar berkunjung ke rumah temanmu.
Bolak-balik kita pertimbangan antara sekolah dan homeschooling mengingat karakternya yang gampang bosen.
Tapi membayangkan biaya masuknya yang wow, jika sekolah yg dia harapkan dan belum tentu ada di Sragen, aku pun berpikir ke sekian kali ketika hendak memasukkan sekolah negeri  biasa mengingat karakternya susah bilang berkata "tidak" pada temannya.
Bahkan di saat ia demam dan lemas teman2nya selalu panggil2 ajak main, dia mulai mengeluh kalo anak2 itu kalo hari sabtu minggu selalu berisik ngajak main.
Di sini aku sering merasa bingung.
Seperti apa sih suasana yang dia mau, yg membuatnya dia nggak bosan dan bisa bertahan???
Mengapa anak2 HS lainnya bisa menikmati waktu senggang dengan mengisi banyak hal, termasuk adiknya yang nyaris nggak pernah kehabisan akal mempelajari sesuatu secara otodidak, meski hampir semua keinginanya jarang aku dengar dibanding kakaknya.

Pilihan tidak masuk pondok

Sesaat saya berpikir, bahwa anak-anak yang memang punya bawaan indigo ini baiknya memang perlu banyak belajar realita sains. Men...